Skip to main content

[TMKM] GELAR KARYA PEMENANG TMKM #4 (Senin & Selasa, 19–20 Februari 2018)




Tema TMKM #4 (sumber foto: http://desktopgraphy.com/magic-land-forest-tree-horse-river-1080p-wallpaper/)


Semakin panas!
Persaingan antarpeserta TMKM semakin ketat. Terbukti, perolehan nilai rata-rata mereka benar-benar beda tipis. Serius! Tipiiisss… banget! 😁

Bagaimanapun, saya secara pribadi senang sekali para peserta (terutama yang sudah rutin mengikuti TMKM sejak awal challenge ini ada) mengalami kemajuan yang cukup signifikan. Oh, ya, untuk TMKM #4 ini, berhubung ceritanya Admin Lyc sedang sangat sibuk dan Admin Meg *uhuk*lupamenghubungijuritamu*uhuk juga sama sibuk(?), Kastil Mimpi tidak mengundang Juri Tamu. Sebaliknya, kami berikan ‘review’ untuk masing-masing peserta (bahkan, karya yang terpaksa masuk diskualifikasi sekalipun), yang bisa dibaca di sini.

Jadi…, inilah karya kelima pemenang TMKM #4 kali ini. Selamat membaca~

GELAR KARYA PEMENANG #TMKM_4

Waktu: Senin & Selasa, 19–20 Februari 2018
Tema: Sesuai Gambar
Genre: Fantasi
Kategori: Cerpen 600 Kata

Pemenang 1: Choliza Nasution – Romansa Hati Hidra – nilai rata-rata = 3,44

REVIEW di sini.

Romansa Hati Hidra
—Choliza Nasution—

Arefa, aku tengah mengenang awal pertemuan kita. Saat itu, mata fajar berada di pertengahan ketika kulihat kau dan teman-temanmu. Dahaga pada kerongkongan membuat kalian menyinggahi Danau Andalusia, wilayah kerajaan bawah air yang sesungguhnya tidak boleh kalian singgahi. Kalian begitu terpesona pada bening air danau yang menghampar bagai bentangan langit biru. Pohon jedayat yang rimbun berpadu kontras dengan bunga-bunga nirwana berwarna kuning gading.
Kalian membasuh wajah dengan air danau dan meminumnya. Sesaat, tubuh kalian merasakan panas dan perih tiada hingga. Hanya sebentar, semua temanmu meregang nyawa. Perlahan, kuhampiri tubuhmu yang sepertinya masih berjuang melawan maut. Sebait mantra kubacakan dan kutiup lembut pada bibirmu. Entah apa yang membuatku ingin menyelamatkanmu waktu itu, yang kutahu kau adalah lelaki perkasa dengan otot-otot menyembul di seluruh tubuhmu. Kau begitu tampan menurutku. Jauh lebih tampan daripada Onebu, Dewa Langit yang pernah kutolak lamarannya.
"Kau siapa?" tanyamu ketika baru saja tersadar.
"Aku Hidra, Dewi Air yang telah menyelamatkanmu. Teman-temanmu telah mati karena meminum air danau. Bangsa kami kerap mengeluarkan racun yang mematikan di tiap napas yang kami keluarkan. Danau Andalusia berbahaya bagi semua makhluk kasar seperti kalian."
"Terima kasih, kau sangat cantik dan anggun," ucapmu sembari menatapku lekat. Wajahku memerah saga. Saat itu, kau telah menggenggam hatiku.
Langit malam telah membuatku bertekuk lutut padamu dan menjadi hamba cinta. Bahkan, Mata Air Anymone adalah lagu hati kita yang tengah kasmaran. Bukit Sifra menjadi saksi betapa kita telah mereguk madu pada cawan-cawan yang begitu haus akan kasih. Sedangkan aku tak bisa menyisakan satu kata pun, terhalau telaga yang mengalir menuju surga yang menggoda. Hasrat yang mengombak melewati malam sepi di udara dan membingkainya menjadi lukisan benih cinta kita.
Namun, angin malam itu telah berkhianat. Bisikannya mengabarkan pada Onebu tentang cinta terlarang dua bangsa yang berbeda. Bagaimanapun, semesta tidak akan pernah merestui. Dewa langit itu murka, dia tetap ingin memilikiku. Penyerangan yang dilakukan pasukan langit telah menghancurkan istana bawah air. Aku mengajakmu berlari ke Bukit Sifra dan membaca mantra agar tidak bisa ditembus mata Onebu. Percuma melawannya, dia tak akan bisa mati dengan kekuatan apa pun.
Di Bukit Sifra, kita bersembunyi sampai aku melahirkan bayi perempuan yang mungil. Tapi, itu tidak berlangsung lama. Onebu kembali mendapati persembunyian kita. Kau berusaha melawannya, meskipun akhirnya kau terdesak dan trisula sakti bersarang di dadamu. Aku meraung mendapatimu sekarat dan memohon agar dia memberikan penawarnya sehingga kau tetap hidup. Tentu saja, dia akan mengabulkan permintaanku dengan syarat aku mau diperistrinya dan kau akan terlahir kembali berwujud kuda putih. Aku menyetujuinya, dan perlahan kau bernapas kembali seiring asap tipis menyelimuti tubuhmu yang bermetamorfosis menjadi seekor kuda putih. Kau meringkik panjang, melihatku naik ke langit bersama Onebu. Kulihat bulir bening di sudut matamu, kau tak berdaya.
Ratusan purnama langit kulewati. Onebu sedang dalam pertapaan panjangnya. Kesempatan itu kugunakan untuk melepaskan rindu yang teramat sangat menggodaku untuk menemuimu di bumi. Di tepi Danau Andalusia, yang keindahannya masih seperti dulu. Kuda putih sedang menyesapi air danau dari tangan gadis mungil, dia pasti anak kita. Pemandangan itu membuatku haru.
Baru saja aku akan menghampiri kalian, ketika kulihat trisula sakti Onebu mengarah padamu. Aku memelesat dan mencoba menepisnya. Terlambat, senjata itu sudah menghunjam dadaku. Aku mencabut trisula yang sudah berlumuran darah, dengan gerakan cepat kutancapkan pada jantung Onebu. Aku tahu, kali ini dia akan mati. Pertapaannya yang belum selesai tidak akan membuatnya kebal pada trisula sakti itu. Dia terkapar, dan jasadnya menjadi serpihan partikel yang kemudian menguap. Begitu pun aku.
***
Medan, 20 Februari 2018

Pemenang 2:  Nonomiya Kazuhiko – Roh Jahat – nilai rata-rata = 3,43

REVIEW di sini.

Roh Jahat
Siaasia

Ane menatap kuda di hadapannya. Ia masih takjub, karena sebagai kuda, makhluk itu memiliki kecerdasan manusia, postur tubuhnya tinggi dan berotot, surainya terurai rapi sepanjang leher. Tapi, yang paling menonjol dari itu semua adalah warna tubuhnya: putih mengilap, berpendar—benar-benar berpendar.
Ane pertama kali bertemu dengannya di hutan ketika sedang mencari kayu bakar. Hewan itu mengenalkan dirinya sebagai roh jahat bernama Helhest. Ane sebenarnya tak terlalu mengerti maksudnya, karena sebagai roh jahat, wujudnya terlalu baik.
Ane menangkupkan dua tangan, menciduk air dari danau, lalu mengarahkannya ke mulut sang kuda. Makhluk itu meminumnya.
“Helhest, apakah kamu harus meminumnya tiap hari?”
“Ya, danau ini pada dasarnya merupakan tempat suci. Airnya bisa memurnikan energi negatif dari roh jahat sepertiku.”
“Hm….” Ane menjilat sisa air yang menempel di tangannya. Gadis itu bangkit lalu memandang Helhest.
“Aku bingung, aku tahu benar Helhest itu baik. Maksudku, kamu tidak pernah berniat melukaiku, kamu juga bersikap ramah padaku, lalu tubuhmu sangat indah, bukannya aneh kalau hal semacam itu disebut roh jahat?”
“Seperti yang aku bilang, Ane, aku membawa dampak buruk.”
“Meskipun kamu tidak berniat melakukannya?”
“Niat atau tidak, pada akhirnya yang dilihat adalah hasil. Kamu dianggap pahlawan jika menyelamatkan dunia, tak peduli seburuk apa pun sikapmu. Sebaliknya, mengesampingkan perangainya, monster yang terlahir sebagai monster akan tetap selamanya menjadi monster. Entitas jahat bukan hanya dilihat dari apakah ia memiliki niat buruk atau tidak, ia jahat karena memiliki dampak buruk, sesederhana itu.”
“Ah, aku mengerti. Tapi, jika kamu tiap hari meminum air danau dan baik-baik saja… dampak burukmu tidak akan ada, bukan?” Gadis itu mencondongkan tubuh ke depan, tersenyum mengembangkan bibirnya. “Jika begitu, kamu tidak memenuhi kriteria sebagai roh jahat,” tambahnya tegas.
Helhest bergeming. Tubuhnya kembali mengeluarkan cahaya.
Selama petualangan yang dia jalani di hutan, Ane perlahan-lahan memahami kekhasan hutan ini. Pertama, hutan ini dipenuhi roh pohon. Tubuh mereka bersayap, bentuknya seperti ulat dengan ukuran yang lebih besar. Mereka biasa hinggap di pepohonan. Setiap malam, mereka mengeluarkan cahaya kehijau-hijauan dan menerangi kegelapan hutan. Hutan ini juga memiliki empat serigala yang menjaga empat arah mata angin. Helhest bilang, mereka liar dan tidak menyukai manusia, jadi jangan beurusan dengan mereka.
“Tapi, selama kamu berada dekat denganku, aku bisa menjamin keselamatanmu,” tutup Helhest.
Namun, Ane selalu melihat Helhest sendirian, dan seringnya berdiam di tepi danau. Ane merasa Helhest dijauhi penghuni hutan yang lain. Karenanya, dalam hati, Ane bertekad untuk selalu menemani Helhest.
“Ane, kurasa sudah saatnya kamu menjauh dariku, bau musim dingin sudah tiba,” ucap Helhest.
Seperti biasa, keduanya sedang berada di tepi danau. Ane kali ini mengenakan mantel berwarna merah darah. Ia juga mengalungkan syal dengan warna senada di leher Helhest.
“Apa hubungannya?”
“Energi negatif dalam tubuhku tidak akan terkontrol. Kamu akan terluka.”
“Helhest, aku ingin terus bersamamu.”
“Seperti yang aku bilang bahwa aku roh jahat. Wujudku yang sebenarnya jauh dari kata indah. Lebih dari itu, aku menyedihkan, menyeramkan.”
“Aku tidak peduli.”
Ane hanya ingin menemani Helhest. Ia senang berhubungan dengan Helhest lebih dari apa pun. Maka hari berikutnya, dia datang. Minggu berikutnya, dia datang. Dan…, saat salju menyentuh bumi…, dia juga datang.
Namun, ketika dia sampai di danau, dia melihat Helhest telah berubah wujud. Kakinya menghilang satu, surainya tumbuh dengan liar, tubuhnya kurus, dan warna putih itu… telah berubah menjadi warna yang suram. Ia kehilangan cahayanya.
“Helhest….”
“Seperti inilah wujud asliku.”
Bukan hanya wujudnya yang berubah, suara Helhest juga menjadi lebih berat.
“Saat air danau membeku, itu adalah akhir dari masa penetralanku.”
Ane melihat ke danau. Tidak ada air, hanya pembekuan yang rata.
Ane menghampiri Helhest, memeluk dan mengusap lehernya. Kemudian, ia merasakan tubuhnya mulai kehilangan tenaga. Ia tak sanggup berdiri. Kesadarannya menyusut perlahan-lahan. Lalu, ia pun terkulai dan tak bergerak lagi.
***
Indonesia, 20 Februari 2018

Pemenang 3:  Alya Amelia Kuda Putih Kutukan nilai rata-rata = 3,43

REVIEW di sini.

Kuda Putih Kutukan
—Uchihamelia—

“Kau akan dikutuk menjadi seekor kuda putih! Wujudmu tak akan berubah sampai seseorang yang tulus datang memberimu minum yang diambil dari Danau Suci.” Ratu dari Negeri Pawana mengumpat murka. “Menjelang fajar, kau akan membuktikannya betapa ampuh kutukan ini!” Ia pun memutar badan, mengentak lantai, dan melangkah pergi meninggalkan istana diikuti para pengawalnya.
Pangeran Randolph masih bergeming, napasnya sedikit sesak. Ia baru saja menolak perjodohannya dengan Miana, putri mahkota dari Negeri Pawana, hingga menyebabkan sang ratu murka dan menjatuhkan kutukan padanya. Takut? Tentu saja.
Negeri Pawana terkenal dengan para penyihir hebat dan mantra-mantra yang sulit dipatahkan. Bagaimana jika ia sungguh-sungguh menjadi kuda? Raja dari Negeri Kirana sudah tua. Sebagai satu-satunya keturunan raja, Pangeran Randolph memikul beban berat di pundaknya dengan mengemban tugas penting kerajaan.
“Saya akan pergi ke hutan. Jika besok saya tidak kembali, itu artinya saya terkena kutukan. Sementara saya tidak berada di sini, tolong gantikan semua tugas kerajaan yang biasa saya emban.” Pangeran Randolph menyerahkan kalung putra mahkotanya kepada Victor, abdi kerajaan yang sangat dipercayainya. “Saya memercayaimu, Victor! Tolong gantikan posisi saya sementara waktu hingga wujud saya kembali normal.”
Victor mengangguk paham, berusaha tetap menampilkan mimik tegar. Seandainya ia memiliki mantra penangkal, tentu saja Victor akan menyelamatkan Pangeran Randolph dari kutukan ratu jahat. Namun, apa boleh buat, ia tidak memiliki ramuan penangkal juga tidak bisa sihir. Dengan ketidakrelaan, akhirnya Victor hanya bisa mengantarkan kepergian Pangeran Randolph menuju gerbang istana.
***
Hari mulai sore dan jalan menuju hutan masih cukup jauh. Pangeran Randolph mempercepat langkah, sebab jangan sampai wujudnya berubah ketika ia masih berada di permukiman warga. Ia masih belum tahu apakah ia bisa mengontrol dirinya dalam wujud kuda nanti atau tidak. Untuk itu, ia setengah berlari agar bisa mencapai hutan sebelum fajar.
Pangeran Randolph berhasil tiba di hutan saat malam. Tubuhnya terasa letih dan ia butuh istirahat. Seharian ini ia sudah berjalan jauh tanpa menunggang kuda. Rasa lapar dan haus tak lagi dirasa. Pangeran Randolph memilih memejamkan matanya dan tanpa sadar ia ketiduran.
Paginya, Pangeran Randolph terbangun dan menyadari wujudnya telah berubah. Kutukan itu terbukti ampuh, berhasil mengubahnya menjadi seekor kuda. Menerima kenyataan, Pangeran Randolph mulai menyusuri hutan untuk menemukan Danau Suci.
Di perjalanan hari kedua, akhirnya Pangeran Randolph menemukan keberadaan Danau Suci. Ia mendekati danau dengan hati-hati, kemudian mencoba meminum airnya. Sayang, wujudnya masih belum bertransformasi menjadi manusia. Sosokmya masih seekor kuda.
Pangeran Randolph mengedipkan mata, merasa sedih. Sesuai yang diucapkan Ratu, wujudnya hanya bisa berubah jika ada seseorang yang tulus mau memberinya air dari Danau Suci ini. Jika ia yang meminumnya sendiri, sampai kapan pun ia tidak akan pernah berubah.
Hari-hari berlalu. Akhirnya, pada suatu ada orang yang mengunjungi Danau Suci. Pangeran Randolph dengan sosok kudanya segera mendekat, tapi ia hanya diabaikan. Hal seperti ini terus terjadi sampai Pangeran Randolph lupa sudah berapa lama ia menjelma menjadi kuda.
Suatu sore menjelang senja, sosok kuda Pangeran Randolph berdiri di ujung danau seperti biasanya. Tatapannya sendu karena ia rindu istana, keluarga, dan rakyatnya. Sudah cukup lama keadaan memaksanya berpisah dengan mereka.
Tiba-tiba, dari dalam hutan muncul seorang gadis berambut cokelat. Parasnya rupawan, dengan badannya yang tinggi semampai. Gadis muda itu tampak girang melihat danau. Tanpa ragu ia mendekat, menyatukan telapak tangan, dan meminum airnya dengan rakus.
Setelah dahaganya terpuaskan, si gadis melirik sosok kuda Pangeran Randolph yang berjarak beberapa meter darinya. “Kau haus?”
Tanpa bersuara, Pangeran Randolph mendekat.
Gadis itu mencelupkan lagi kedua tangannya, mengambil air di telapak tangan, lalu mendekatkannya tanpa takut pada mulut Pangeran Randolph yang terlihat kehausan. “Hai, Kuda Putih! Mau minum lagi? Kelihatannya kau haus sekali.”
Sungguh ia terharu akhirnya seseorang yang tulus datang menyelamatkannya dari kutukan. ‘Akan kunikahi gadis ini, penolongku.’ Pangeran Randolph berkata yakin dalam hati.
***
Sukabumi, 20 Februari 2018


Pemenang 4: Fahrurrozzi Nurkholiq – Failed – nilai rata-rata = 3,36

REVIEW di sini.

Failed
Fahrurrozzi

Angin berembus pelan, menyentuh aliran air yang terus mengalir dalam diam. Bukit-bukit tinggi menjulang di bawah hamparan langit kemerahan yang terbakar mentari senja. Naga-naga yang sedari tadi berkeliaran di angkasa membuat keindahan itu semakin menakjubkan.
Nova melihat keindahan semesta dari tepi sungai bersama seekor kuda putih yang terus setia menemaninya. Air sungai mengalir melewati kakinya yang terjulur. Dingin dan basah membuat Nova sedikit menggigil, tetapi dia tidak memedulikan itu. Angannya melayang menuju cercaan dan makian para elf di Kerajaan Axzelltella─kerajaan bangsa elf. Berjuta hinaan saling memilin bagaikan badai hebat di dalam benaknya, memberikan efek domino pada tubuh mungil gadis itu. Mata merah darahnya menatap sayu pada angkasa jingga, menatap langit itu dengan kosong dan tanpa arti.
Masih teringat jelas, bagaimana keluarganya sendiri menyebut Nova sebagai seorang elf gagal, karena ia tak bisa menggunakan sihir. Bahkan, ‘manna’ pun tak punya. Benar-benar elf yang sangat menyedihkan.
Tangisannya meledak, melawan arah rotasi semestanya sendiri. Ia tak mampu lagi berkata-kata, bahkan segala bentuk susastra tak mampu menggambarkan bagaimana hati lembut gadis berambut pirang itu terluka dalam tawa jagat raya.
Nova mengangkat kakinya yang terjuntai, kemudian memeluknya. Isak tangisnya tak bisa ia hentikan.
Cahaya jingga yang menguasai angkasa kini semakin tenggelam dihantam kepekatan malam, dan berangsur-angsur hilang bersama harapan Nova.
Gadis itu masih menangis, berharap menemukan sebuah titik balik kehidupan. Berharap bertemu dengan seorang pangeran yang akan melamarnya dengan jutaan bunga dan emas. Berbalut kasih di pelantaran senja, duduk berdua dalam hangatnya pagi dan menceritakan kehidupan yang semakin kacau. Namun, dia sadar, itu semua tak akan pernah terjadi. Tidak akan pernah.
Nova melempar pandangannya pada seekor kuda putih yang terus memandangnya dengan tatapan yang seolah-olah membisikkan padanya bahwa dia akan baik-baik saja. Menghapus air matanya, sebersit senyuman lembut terukir indah di bibir gadis itu. Ia kemudian mengelus pelan kepala hewan berkaki empat itu dengan penuh kasih sayang, seakan-akan ia adalah teman terbaiknya.
“Sepertinya hanya kau yang benar-benar memahamiku,” ucap Nova. Senyumannya tak pudar, tak seperti langit jingga yang sudah menjelma menjadi langit pekat penuh bintang.
Sang kuda putih mengeluarkan suaranya, seolah-olah tertawa melihat senyum indah terukir pada wajah cantik gadis itu.
Nova menggigil pelan, merasakan udara dingin yang terus merasuk ke dalam semestanya, membawa lusinan bola energi yang dapat meledak dengan sekali teriakan. Namun, Nova hanya mengabaikannya, seperti tak ingin momen ini rusak hanya karena tubuhnya yang kedinginan. Gadis itu menoleh pada aliran sungai, lalu meraup sekumpulan air dengan kedua tangannya yang ia bentuk seperti sebuah cawan, dan menyodorkan pada mulut kuda putih itu.
Si kuda meminum pelan, menikmati setiap sesapkan yang ia rasakan, dan mengobati rasa lelah keempat kakinya yang terus dipacu semalaman untuk melarikan diri dari neraka kehidupan. Nova melakukannya sekali lagi, dan kuda itu juga meminumnya dalam hangat. Gadis itu melakukannya berkali-kali.
Setelah cukup, Nova berdiri dan tersenyum, memandang langit yang hampir sepenuhnya dikuasai keheningan.
“Yosh!” serunya, mencoba mengalirkan semangat ke dalam dirinya. “Mari kita lanjutkan perjalanan kita.”
Nova melompat ke punggung kuda putih dengan hati-hati dan mengarahkan sang tunggangan untuk kembali berderap. Bersama sang malam, mereka berpacu melawan rasa lelah yang selalu menghantui.
Nova tersenyum pada rembulan yang menggantung di angkasa lepas, tertawa bersama awan hitam yang meliputinya. Entah di mana tempat perhentiannya, entah di mana tempat berteduhnya. Ia tak peduli, karena tujuannya cuma satu, berlari keluar dari tawa dan hinaan bangsa elf. Entah ke mana pun itu, ia sangat yakin akan menemukan tempat yang tepat untuk elf yang tidak bisa menggunakan sihir itu.
***
Ciamis, 19 Februari 2018

Pemenang 5: Azizah Mamypopo – Pewaris Airela – nilai rata-rata = 3,25

REVIEW di sini.

Pewaris Airela
Azizatul Mu'alifah

Raja Dean adalah raja di Kerajaan Havana, sebuah negeri yang berdiri kokoh di atas gumpalan awan jingga. Dia terkenal sebagai raja yang bijaksana dan rendah hati. Selalu mementingkan kesejahteraan rakyat, hingga lupa dengan keadaan dirinya yang mulai menua dan berkerut.
Suatu hari, Raja Dean merenung memikirkan nasib rakyatnya jika suatu saat dirinya mati. Siapa yang akan menjaga dan mencukupi semua kebutuhan mereka? Dalam kekalutan itu, diam-diam Raja Dean berdoa, meminta kehidupan abadi. Dia ingin menjadi pelindung rakyatnya yang disegani.
Malam itu, Raja Dean bermimpi bertemu seekor kuda berwarna putih dan bersurai emas.
"Naiklah! Aku akan membawamu ke suatu tempat," kata kuda itu sambil mengibaskan ekor panjangnya.
Raja Dean terkejut. "Siapa kau?" tanyanya.
"Aku adalah jawaban doamu," jawab si kuda jantan. Mendengar itu, Raja Dean langsung menurut.
Di pinggir sungai yang jernih, di antara pohon-pohon agung pencakar langit, Raja Dean diturunkan.
"Inilah tempatmu."
"Bukan, ini bukan tempatku. Aku memiliki istana, dan rakyat yang butuh perhatianku. Kembalikan aku pada mereka!"
"Sudah terlambat. Sebentar lagi kau akan mati." Kuda itu mendekat ke sungai, lalu memakan rumput segar.
"Tidak! Aku tidak mau mati!" Raja Dean meraung.
"Apakah kau lupa? Setiap makhluk yang bernapas akan mati!" Kuda beraroma wangi itu menegaskan.
Raja Dean berusaha mengingat semua yang terjadi. Tapi, rasa takut yang mencekam seperti membekukan otaknya. Tiba-tiba, datang seorang anak kecil berambut pirang dan berkulit putih. Dengan senyum mengembang, anak lelaki itu menuju pinggir sungai, mengambil air dengan kedua tangannya untuk diminumkan kepada si kuda.
Dalam keheningan senja yang kekuningan, di antara sayup-sayup burung yang mulai terbang ke sarangnya, Raja Dean seperti teringat masa lalu. Dia mulai mengenali sosok kecil yang sangat menyayangi kuda bersurai emas itu.
"Kau sudah ingat?" Seperti ahli membaca pikiran, kuda itu langsung menyeringai puas. Raja Dean terperanjat.
"Dia Marlon, pemilik airela generasi kedua. Kelak, dialah yang akan meneruskan kekuasaanmu. Pemimpin yang sudah terpilih. Lihatlah! Dia seperti kamu, bukan?"
"Tapi, aku tidak ingin mati dan meninggalkan rakyatku. Mereka masih membutuhkanku." Raja Dean mulai menangis.
"Kau tidak pernah meninggalkan rakyatmu, Dean. Namamu akan selalu di hati mereka. Percayalah, kau pemimpin terbaik yang tidak akan pernah mereka lupakan. Mereka akan selalu mengenangmu dalam setiap bait doa. Bukankah pengorbananmu untuk mereka sudah lebih dari cukup?"
Raja Dean seperti mendapat angin segar. Kata-kata kuda putih itu mampu membuat hatinya tenang. Lalu, dia berjalan mendekati Marlon. Raja Dean kemudian mengeluarkan airela, pedang kecil yang selalu tersemat di sabuk kulit miliknya. Pusaka istana Kerajaan Havana.
"Ambillah!"
"Tidak." Marlon menggeleng. "Aku sudah memiliki itu." Dia mengeluarkan airela yang sama.
Raja Dean tersenyum lebar, hatinya merasa tenang. Seperti melihat cahaya putih berputar di langit, dia lalu memejamkan mata. Dalam sekali tarikan napas, tubuhnya perlahan menghilang, lalu menguar membentuk ribuan kunang-kunang. Terbang berpencar membentuk kerlip yang menawan.
***
SMD, 20-02-2018



Comments

Popular posts from this blog

[TUTORIAL] SEPATU BEKAS JADI BARU LAGI DENGAN COVER RAJUT (FOTO STEP BY STEP)

Hai, Bunda dan Sista Rajuters~ 😊

Sesuai janji saya di grup Belajar Merajut kemarin, hari ini saya posting Tutorial Step by Step Cover Sepatu Rajut. Nggak nyangka banget, bakal dapat respons positif dari Bunda dan Sista sekalian. Saya pikir nggak ada yang tertarik, makanya saya cuma menargetkan 20 komentar "mau" untuk membuat tutorial ini. Saya nggak mau muluk-muluk. Bagaimanapun, saya bakal tetap membuat tutorial ini, kok. Nah, respons Bunsist sekalian ini menjadi penyemangat untuk saya. 😊


Sebelum menuju ke tutorialnya, saya mau minta maaf dulu kalau gambar-gambarnya pecah/kurang jelas. Kamera hape biasa ini, malam hari (saya begadang semalam setelah si bocil KO pukul 11 malam demi membuat tutorial ini, meski baru bisa menulis siang hari), dan tanpa flash. Nggak apa-apa, ya, yang penting pesannya tersampaikan. 😅

Oh, ya, barangkali ada di antara Bunda dan Sista yang penasaran dan bertanya-tanya:
1. Kok tutorialnya dikasih gratis? Padahal, di luar sana banyak, lho, yang unt…

[WRITING] TEKNIK MENULIS SHOW DON'T TELL (DILENGKAPI CONTOH)

[CONTOH RESENSI] REKONSTRUKSI PENDIDIKAN NASIONAL MENURUT NGAINUN NAIM

Salam~
Sebelum menuju ke resensi, saya jelaskan dulu bahwa ini adalah resensi  lawas yang saya tulis ketika masih mahasiswa baru (tahun 2009). Ditulis dalam rangka mengikuti lomba menulis resensi se-maba di universitas tempat saya menimba ilmu. Dan... alhamdulillah, resensi ini terpilih sebagai juara pertama. Hadiahnya lumayan, paket buku berisi 6 (atau 7?) eksemplar buku berbagai judul. Karena itulah, meski lawas saya kira ini cukup layak dijadikan contoh resensi. 😁
Untuk tata cara penulisan resensi, bisa dibaca di sini.
Baiklah... mari kita mulai membaca resensinya! 🙏
Rekonstruksi Pendidikan Nasional Menurut Ngainun Naim



Judul Buku: REKONSTRUKSI PENDIDIKAN NASIONAL - Membangun Paradigma yang Mencerahkan Pengarang: Ngainun Naim
Penerbit:Penerbit TERAS
Cetakan: I; April 2009
Tebal Buku:xii+290 halaman
Harga Buku:Rp 27.500,00

==========

Agaknya, kita tidak akan bisa membantah pendapat yang menyatakan bahwa pendidikan merupakan syarat utama dalam peradaban umat manusia. Dunia tak pernah berh…

[WRITING] PENGERTIAN DAN CONTOH FLASH FICTION

[PROMPTS] JENIS-JENIS KINESIS, KAMU PILIH MANA?