Skip to main content

[TMKM] GELAR KARYA PEMENANG #TMKM_2 (Senin & Selasa, 5–6 Februari 2018)




Apa kabar, Para Pemimpi? Bagaimana kabar ayam kalian? (Lalu pemirsa langsung memelotot rame-rame, “Ayam apa?!”) 😅😆

Ehm, tema TMKM edisi 2 kemarin itu, lho, kan “Aku & Ayam”. Jadi, wajar, dong, kalau saya menanyakan kabar si ayam?

Oke, abaikan basa-basi yang nggak jelas banget itu. Nah, mari langsung saja kita menuju ke bahasan pokok.

Pada hari Senin dan Selasa, 5–6 Februari 2018 kemarin, #TMKM_2 telah digelar dengan tema “Aku & Ayam”, kategori FTS 300 kata. FTS, lho, alias Flash True Story. Eh, lha kok ada juga yang setor fiksi. Ya wis, cerita ‘salah asuhan’ itu langsung masuk gerobak diskualifikasi. Selain itu, ada satu lagi peserta yang terpaksa ikut diangkut sebab telah menyunting ceritanya lebih dari 2x (batas maksimal penyuntingan). Semoga pada edisi selanjutnya hal seperti ini nggak terjadi agi. Amin….

Kalau pada TMKM 1 sebelumnya Kastil Mimpi menghadirkan Juri Tamu yang berasal dari Bima, NTB, pada TMKM 2 ini kami mengundang seorang penulis asal Medan, Horas! Semoga dengan keberadaan juri-juri tamu ini mampu membangkitkan semangat peserta untuk terus menulis dan berkembang menjadi lebih baik lagi. Amin…. Oh, ya, barangkali kalian kepingin membaca ulasan untuk masing-masing peserta, bolehlah menengok ke sini.

Baca juga: Gelar Karya Pemenang TMKM 1


Akhirnya…, inilah karya ke-5 pemenang kita pada edisi ini. (Catatan: sudah melewati penyuntingan—minor—sebelum ditayangkan)

Pemenang 1 –  Azizah Mamypopo dengan nilai rata-rata 4

Ayam Pak Mun
—Azizatul Mu'alifah—

Sudah tiga hari ini Pak Mun, tetangga sebelah yang hanya berjarak dua meter, kehilangan ayam babon kesayangannya. Sudah dicari ke rumah tetangga, pekarangan, pinggir sungai, dan beberapa tempat. Tapi, si hitam berbadan gemuk itu seperti raib ditelan bumi.
"Nduk, apa kamu lihat ayamku?" tukas pria berkumis lebat itu di sore yang mulai gulita.
"Tidak, Pak. Memangnya si babon belum pulang?"
"Entahlah. Mungkin ini memang salahku, tidak menempatkannya di kandang." Pria bermata bulat itu mulai putus asa.
"Mungkin main di sawah belakang rumah, Pak. Bapak tahu sendiri, kan, banyak anjing liar pemakan binatang ternak."
"Masak, sih?" Pak Mun terkejut.
"Ah, Bapak ketinggalan info. Banyak tetangga sini yang kehilangan ayam di sawah belakang."
"Waduh, aku pulang dulu, Nduk. Mau ngandangin ayam-ayam lain." Pria gemuk itu tergesa-gesa meninggalkanku yang duduk manis di teras sambil membaca koran.
Aku hanya terkikik. Dalam hati bersorak riang.
Syukurin, sudah tahu ayamnya suka kelayapan dan berak di sembarang tempat. Disembelih, tuh, sama suamiku. Cari saja sampai buyutan, nggak bakalan dapat, umpatku dalam hati tanpa rasa bersalah. Urusan dosa, pikir belakang.
***
SMD, 6-2-2018

Pemenang 2 –  Nonomiya Kazuhiko dengan nilai rata-rata 4

Luka Ayam
—Siaasia—

Dulu, aku sangat menyukai ayam. Anak ayam. Bukan hanya untuk dimakan, tapi juga dipelihara. Tapi, keterkaitanku dengan ayam tidak hanya sebatas perasaan suka antara pemilik dan hewan peliharaan. Di dalamnya terkandung pengalaman pahit, penyesalan, sesuatu yang buruk, suatu dosa yang tidak bisa aku tebus tak peduli seberapa kerasnya aku mencoba untuk membayarnya. Sesuatu yang membuat kami—aku dan ayam—terikat dalam hubungan ketidakbahagiaan.
Kalau dipikirkan lagi, apa yang membuat ini menjadi buruk sebenarnya adalah rasa sukaku terhadap ayam. Rasa suka melahirkan hal buruk, dan kurasa kasus ini merupakan contoh yang tepat. Bagaimanapun, ini tidak akan terjadi andai aku tidak memiliki hasrat terhadap ayam. Pada akhirnya, bentuk perhatian seseorang terhadap hewan sering kali tidak membuat hewan tersebut bernasib baik.
Mengingat kembali kisah-kisahku bersama ayam, sebagian besar dari itu berakhir dengan tragis.
Kematian. Kematian. Kematian. Kematian. Kematian. Kematian. Dan… kematian.
Ingatan pertama yang terlintas adalah kematian ayam akibat ketololanku yang melepaskan ayam di antara kerumunan orang—orang-orang berlalu-lalang. Kejadiannya malam hari. Waktu itu, aku berpikir mungkin ayam-ayam akan terlihat senang jika dibebaskan dalam suasana yang ramai. Keputusan yang konyol. Akibatnya, krek, satu ayam terinjak kaki manusia. Mati di tempat dengan isi perut terburai.
Ingatan lain tentang ayam adalah kecelakaan yang menyebabkan satu ayam mesti hidup lebih cepat dari jangka waktu hidup ayam yang seharusnya, ia terlindas roda sepeda di jalan depan rumahku.
Dan, ingatan lainnya—mungkin, ini adalah yang terparah dari semuanya.
Tidak lebih dari bentuk ketololanku.
Kejadiannya berawal ketika aku menempatkan ayam-ayam itu di sebuah bak luas yang terbuka, dengan maksud menganggap itu sebagai kandang. Nahas, hujan turun semalaman. Bak tersebut terletak di luar, tanpa atap yang menopang.
Bak.
Air.
… Keduanya digabungkan.
Sampai sekarang, aku tidak bisa lupa pemandangan yang terjadi pada pagi harinya. Ayam-ayam itu mengambang di permukaan, tanpa nyawa, dalam bak yang dipenuhi air.
***
Indonesia, 06-02-2018

Pemenang 3 –  Choliza Nasution dengan nilai rata-rata 3,5

Fobia Ayam
—Choliza Nasution—

Aku fobia kedalaman, ketinggian, kegelapan, ayam, tanggal tua, cowok ganteng. Banyak, bukan? Ini serius. Tapi, di antara sekian banyaknya fobia yang kuderita, hanya fobia ayam yang sampai sekarang tetap menjadi momok bagiku. Bahkan, bulu ayam yang kutemui di laci meja riasku mampu membuatku salto dan kayang secara bersamaan dengan lengkingan suara sopranku. Tentu saja anakku yang tidak sengaja menyimpan pulpen berbentuk bulu ayam itu meraung melihat aku yang konon katanya seperti orang kesurupan. Jangan berharap aku akan masak ayam. Suami dan anak-anakku harus rela makan ayam di luar rumah. Atau, kalau sedang kaya, mereka akan membelinya di restoran cepat saji.
Entah kenapa tema kali ini aku harus berbicara tentang ayam lagi. Baiklah, alkisah beberapa tahun lalu aku sangat kesal pada seorang siswa yang kita sebut saja bernama Anto. Sudah beberapa kali dia tidak membawa buku paket Matematika yang setebal batu bata. Alasannya? “Berat, Bu!” kata Anto.
Hm, kupikir yang berat itu cuma rindu.
Tiba-tiba, aku penasaran melihat tasnya yang sedikit terbuka di bagian atasnya. Tas ransel dengan isi yang penuh sesak. Aku menyuruhnya untuk memperlihatkan isi tasnya dengan sedikit memaksa ketika dia terlihat enggan mengeluarkan isinya. Perlahan tapi pasti, tampak sebuah kotak berjaring dengan hewan kecil berbulu warna-warni. Dan, aku yakin bahwa itu adalah anak ayam! Aku tak mengingat apa-apa lagi setelahnya.
Saat tersadar kembali, aku mendapati diriku di tempat tidur ruang UKS. Linda, rekanku, mengatakan bahwa aku pingsan. Dia menyuapiku makanan dan meyakinkanku bahwa aku mungkin lupa sarapan tadi pagi. Akhirnya, aku menceritakan bahwa aku fobia ayam. Sesaat kemudian kulihat wajahnya memucat.
"Maaf, barusan yang kamu makan tadi sup ayam." Pengakuan tanpa dosa itu mengakibatkan aku pingsan lagi untuk yang kedua kalinya hari itu. Oh, ayam telah bersemayam dalam tubuhku.
***
Medan, 5 Februari 2018

Pemenang 4 –  Ria Isn’t Jellyfish dengan nilai rata-rata 3,4

Ayam Bakar Mbak Ria
—Prominensa—

Pagi itu aku punya sebuah ide. Ingin membuat suatu hidangan untuk bekalku pulang sore nanti. Dan, mungkin bisa jadi hidangan spesial untuk sang mertua yang selama ini sudah merawatku selama tiga bulan aku tinggal di rumahnya.
Sambil berjalan ke arah mertua, aku juga melihat ke sekeliling kandang ayam di belakang rumah.
"Mak, saya boleh minta ayamnya satu saja."
Terang-terangan aku meminta izin langsung ke ibu mertua yang sedang menjemur pakaian.
Ia menoleh, dan tersenyum ke arahku. "Ambil saja, Nak! Dua atau tiga ekor tidak masalah, kok. Mau kamu pelihara, ya?"
"Eh?" Aku terkejut ibu mertua berkata begitu. "Emmm, tidak, Mak. Aku ingin membakarnya. Maksudku dibuat ayam bakar. Bukan untuk dipelihara."
Beliau menyeka peluh di dahinya. "Nanti Emak ambilkan. Sekalian suruh Supri, adikmu, untuk menyembelihnya."
Aku kegirangan sambil berucap terima kasih. Hingga siangnya aku dan adik iparku yang bernama Supri itu mulai menyiapkan perlengkapan membakar.
"Mbak, kamu siapkan bumbunya!" perintah Supri.
"Iya, tahu. Ini sudah dimasak," jawabku sedikit ketus.
Supri bangkit berdiri. Ia kemudian berjalan ke arah kompor dengan ayam berlumur bumbu di dalam panci. Dahinya mengernyit. Seolah meragukan caraku memasak, ia pun mencolek bahuku.
"Kamu salah resep, ya, Mbak? Kenapa ayamnya begini? Memangnya direbus dulu?"
"Iyalah direbus. Kan, biar bumbunya merasuk."
"Tak yakin, Mbak, aku sama resepmu."
Aku mendengus. Dalam hati aku berkata, Awas saja kalau hasilnya enak dan dimakan sampai habis!
Ya, apa yang kuucap dalam hati benar terjadi. Supri—adik iparku, makan paling banyak dan lahap. Membuat aku geleng-geleng dan menahan tawa yang ingin membeludak.
***
Bogor, 5 Februari 2018

Pemenang 5 –  Lindo Ririgar dengan nilai rata-rata 3,3

Dadanya Habis?
—Lindo Ririgar—

“Makan dulu, yok!” ajakku.
“Di mana?” tanya Ridwan.
“Biasa...,” jawabku.
“Ayok,” sambung Rudi
Kami—aku, Agus, Ridwan, dan Rudi—adalah mahasiswa semester dua. Pada saat jam istirahat—pukul 12.00, kami biasa makan di rumah makan padang dekat kampus.
Hari ini, kami baru istirahat pukul 13.30, karena ada jadwal kuliah yang diundur.
Tempat ini merupakan tempat makan langganan kami, setelah kami mencoba beberapa tempat makan sejak masuk kuliah. Lauk pauk yang tersedia di sini hampir semuanya menggunakan bahan ayam.
Ada sop ayam, ayam goreng, ayam cabai merah, ayam cabai hijau, ayam kecap, ayam gulai, ayam semur, ayam kalasan, dan ayam bakar. Ayam bakar adalah makanan kesukaanku.
Bagian ayam kesukaanku, tentu saja, bagian dada. Banyak dagingnya dan mudah dimakan. Kalau bagian sayap dan paha, banyak tulang-tulang kecil dan dagingnya juga lebih sedikit.
Lauk pauk lainnya yang tersedia, ada ikan lele, ikan gembung, telur dadar, telur mata sapi, telur bulat sambal, perkedel, tahu isi mihun, sayur daun ubi, dan sayur bening.
“Kak, kami mau makan,” ucap Rudi.
“Makan di sini atau bungkus?” tanya kakak penjual.
“Makan di sini,” jawab Rudi.
“Pakai apa?” tanya kakak penjual.
Ridwan memilih ayam kalasan bagian paha, Rudi ayam goreng bagian sayap, sedangkan aku—seperti biasa—ayam bakar bagian dada.
“Dadanya udah habis,” jawab kakak penjual.
“Kalau ayam cabai hijau?” tanyaku.
“Udah habis juga.”
“Ayam apa saja bolehlah, Kak. Asalkan bagian dadanya.”
“Bagian dadanya udah habis semua.”
“Lah? Kok bisa?” tanyaku.
“Ya, bisalah. Namanya juga ada yang beli,” jawab kakak penjual.
“Kalian datangnya lama,” sambungnya.
“Tadi kuliahnya sedikit terlambat, Kak. Jadi, keluarnya juga lama,” jelasku.
“Sudah, makan saja. Setengah jam lagi kita ada kuliah lagi, lho. Bukannya, masih ada sayap sama paha?” tanya Ridwan sembari memberikan saran.
“Iya, betul itu kata Ridwan,” tambah Rudi.
“Okelah kalau begitu. Kak, saya pakai telur sambal, ya.”
“Jeh? Woi!” Teriakan tertahan mereka terdengar serentak.
***
Banda Aceh, 6 Februari 2018

Comments

Popular posts from this blog

[TUTORIAL] SEPATU BEKAS JADI BARU LAGI DENGAN COVER RAJUT (FOTO STEP BY STEP)

Hai, Bunda dan Sista Rajuters~ 😊

Sesuai janji saya di grup Belajar Merajut kemarin, hari ini saya posting Tutorial Step by Step Cover Sepatu Rajut. Nggak nyangka banget, bakal dapat respons positif dari Bunda dan Sista sekalian. Saya pikir nggak ada yang tertarik, makanya saya cuma menargetkan 20 komentar "mau" untuk membuat tutorial ini. Saya nggak mau muluk-muluk. Bagaimanapun, saya bakal tetap membuat tutorial ini, kok. Nah, respons Bunsist sekalian ini menjadi penyemangat untuk saya. 😊


Sebelum menuju ke tutorialnya, saya mau minta maaf dulu kalau gambar-gambarnya pecah/kurang jelas. Kamera hape biasa ini, malam hari (saya begadang semalam setelah si bocil KO pukul 11 malam demi membuat tutorial ini, meski baru bisa menulis siang hari), dan tanpa flash. Nggak apa-apa, ya, yang penting pesannya tersampaikan. 😅

Oh, ya, barangkali ada di antara Bunda dan Sista yang penasaran dan bertanya-tanya:
1. Kok tutorialnya dikasih gratis? Padahal, di luar sana banyak, lho, yang unt…

[WRITING] TEKNIK MENULIS SHOW DON'T TELL (DILENGKAPI CONTOH)

[CONTOH RESENSI] REKONSTRUKSI PENDIDIKAN NASIONAL MENURUT NGAINUN NAIM

Salam~
Sebelum menuju ke resensi, saya jelaskan dulu bahwa ini adalah resensi  lawas yang saya tulis ketika masih mahasiswa baru (tahun 2009). Ditulis dalam rangka mengikuti lomba menulis resensi se-maba di universitas tempat saya menimba ilmu. Dan... alhamdulillah, resensi ini terpilih sebagai juara pertama. Hadiahnya lumayan, paket buku berisi 6 (atau 7?) eksemplar buku berbagai judul. Karena itulah, meski lawas saya kira ini cukup layak dijadikan contoh resensi. 😁
Untuk tata cara penulisan resensi, bisa dibaca di sini.
Baiklah... mari kita mulai membaca resensinya! 🙏
Rekonstruksi Pendidikan Nasional Menurut Ngainun Naim



Judul Buku: REKONSTRUKSI PENDIDIKAN NASIONAL - Membangun Paradigma yang Mencerahkan Pengarang: Ngainun Naim
Penerbit:Penerbit TERAS
Cetakan: I; April 2009
Tebal Buku:xii+290 halaman
Harga Buku:Rp 27.500,00

==========

Agaknya, kita tidak akan bisa membantah pendapat yang menyatakan bahwa pendidikan merupakan syarat utama dalam peradaban umat manusia. Dunia tak pernah berh…

[WRITING] PENGERTIAN DAN CONTOH FLASH FICTION

[PROMPTS] JENIS-JENIS KINESIS, KAMU PILIH MANA?