Skip to main content

[FLASH FICTION] MERPATI PUTIH





Bocah itu lagi!

Kupalingkan wajahku. Rapat-rapat kututup kedua mataku. Sial! Sial! Sial!

Berhenti mendatangiku!

Angin—entah bagaimana—mengembus semakin dingin. Aroma dinding lapuk, yang catnya sudah mengelupas di sana-sini, besi berkarat, bekas air seniku yang telah mengering… entah kenapa indraku semakin menjadi. Sial! Aku bisa gila jika terus begini!

“Berhenti menggangguku, Bangsat!” Aku berteriak sekuat tenaga. Menekuk lututku dan menutup kedua telingaku rapat-rapat ketika kudengar bocah itu mulai bernyanyi. Semakin rapat aku meringkuk di sudut ruangan tempatku menghabiskan hari-hari sejak polisi keparat itu menemukan tempat persembunyianku.

“Aku sudah membunuhmu! Aku sudah membunuhmu!!!”

Suaranya kian mendekat. Lalu, kurasakan embusan angin dingin di dekatku. Aroma tanah menguar pekat. Sial. Aku mengutuk dalam hati. Bocah itu pasti berada di sampingku kini. Aku ingin menengoknya tapi juga sekaligus tidak ingin. Sial. Apa maunya bocah ini sebenarnya?!

Dia berhenti bernyanyi. Samar-samar, kudengar dia mengatakan sesuatu. Kukendurkan tanganku yang menutup telinga. Apa? apa yang dikatakannya?

“Aku tidak membencimu.”

Suaranya seperti air yang mengalir. Aku tahu itu bohong besar. Aku sudah membunuhnya, membiarkan jasadnya membusuk di dalam sumur. Mustahil dia tidak membenciku. Lagi pula, untuk apa dia terus menerus mendatangiku jika bukan ingin membunuhku? Oh, benar. Membalas dendam dengan membuatku gila terdengar lebih masuk akal.

“Merpati putih itu sudah terbang dengan bebas. Dia memiliki anak-anak yang manis,” katanya, entah apa yang dia lanturkan. “Empat. Mungkin lima? Entahlah….”

“Apa maumu?” Kuberanikan diriku bertanya. Aku pasti sudah benar-benar gila, bicara dengan arwah orang yang sudah meninggal. Orang yang kubunuh!

“Berterima kasih padamu.”

“Jangan bercanda!!!” Aku meneriakinya. Dan, tanpa sadar mendongakkan kepala menatapnya. Wajah pucatnya menyambutku. Mata kosong dan senyum hampa. Sial! Seketika aku bangkit dan berlari menjauh.

“Apa yang…?”

Aku tidak tahu seberapa cepat aku bergerak tadi. Rasanya seperti melayang. Dan, tiba-tiba saja, aku sudah berada di luar jeruji besi tempatku seharusnya berada. Ini gila. Aku pasti sudah sangat gila sampai-sampai menghalusinasikan kalau aku baru saja… menembus?

“Aku terjatuh ke dalam sumur karena kesalahanku sendiri.” Bocah itu bangkit, menatapku dengan kedua matanya yang hampa. “Aku tidak membencimu karena kau berlari waktu itu. Aku membencimu karena kau memilih mati di sini, di tempat ini. Tapi, aku tidak bisa terlalu lama membencimu. Aku harus berterima kasih, karena kau telah membantuku membebaskan merpati itu dari jerat ayahku.”

Apa yang dibicarakannya? Jangan bercanda! Aku mati? Musta—

Mendadak aku ingat semuanya. Hari itu… ketika polisi keparat itu memukuliku hingga nyaris mati di dalam sel ini… aku sudah mengatakannya, aku tidak membunuh Nina! Bocah itu terjatuh sendiri saat aku ingin memperingatinya kalau di bawah semak-semak itu ada sumur tua. Tapi, polisi itu tidak mau repot-repot mendengarku. Jadi, aku meraih pistol di pinggangnya dan berkata, “Benar, aku membunuhnya.”

***

Hazuki Auryn
Negeri Bawah Angin, Rabu 12 Maret 2014



Comments

Popular posts from this blog

[TUTORIAL] SEPATU BEKAS JADI BARU LAGI DENGAN COVER RAJUT (FOTO STEP BY STEP)

Hai, Bunda dan Sista Rajuters~ 😊

Sesuai janji saya di grup Belajar Merajut kemarin, hari ini saya posting Tutorial Step by Step Cover Sepatu Rajut. Nggak nyangka banget, bakal dapat respons positif dari Bunda dan Sista sekalian. Saya pikir nggak ada yang tertarik, makanya saya cuma menargetkan 20 komentar "mau" untuk membuat tutorial ini. Saya nggak mau muluk-muluk. Bagaimanapun, saya bakal tetap membuat tutorial ini, kok. Nah, respons Bunsist sekalian ini menjadi penyemangat untuk saya. 😊


Sebelum menuju ke tutorialnya, saya mau minta maaf dulu kalau gambar-gambarnya pecah/kurang jelas. Kamera hape biasa ini, malam hari (saya begadang semalam setelah si bocil KO pukul 11 malam demi membuat tutorial ini, meski baru bisa menulis siang hari), dan tanpa flash. Nggak apa-apa, ya, yang penting pesannya tersampaikan. 😅

Oh, ya, barangkali ada di antara Bunda dan Sista yang penasaran dan bertanya-tanya:
1. Kok tutorialnya dikasih gratis? Padahal, di luar sana banyak, lho, yang unt…

[WRITING] TEKNIK MENULIS SHOW DON'T TELL (DILENGKAPI CONTOH)

[RANDOM TALK] MENULIS DENGAN TANGAN KIRI, SALAHKAH? ORANG KIDAL PUN MEMILIKI KELEBIHAN!

[WRITING] PROSA UNGU YANG MENDAYU (PENGERTIAN DAN CONTOH)

Assalamualaikum~
Salam sejahtera dan Rahayu~

Sebelum memasuki bahasan pokok, saya mau bilang bahwa judul itu hanya soal rima, ya. Kata "mendayu" berkaitan dengan suara senandung sayup-sayup, jadi sebenarnya enggak terlalu cocok kalau disandingkan dengan prosa ungu yang lekat dengan kata-kata. Hehehe 😁

Nah, pernahkah kalian mendengar tentang purple prose atau prosa ungu?

Pernahkah kalian membaca cerpen atau novel yang penulisannya boros, berbunga-bunga, diksi penuh metafora, dan secara umum berlebihan? Itulah yang disebut prosa ungu. Nah, kalau misalnya bagian yang berbunga-bunga ini hanya terletak di satu atau beberapa bagian saja dari keseluruhan cerita, bagian yang memuat metafora dan diksi berbunga-bunga ini disebut purple patches atau purple passages.

Dikutip dari Urban Dictionary, prosa ungu adalah tulisan yang penulis gunakan dengan sangat berbunga, deskriptif, dengan kata-kata yang tidak perlu. Kata-kata (atau deskripsi) tersebut tidak menambah cerita dan biasanya d…

[WRITING] 7 JENIS PARAGRAF PEMBUKA CERITA YANG MENARIK PEMBACA (DENGAN CONTOH)

Hallo there~

Kita berjumpa lagi~ 😃
Kali ini kita membahas tentang pembukaan sebuah cerita. 😃
Kalian tahu, paragraf pertama sebuah cerita ibaratnya display pada jendela toko. Bagaimana membuat display yang menarik sehingga pelintas (calon pembaca) berhenti dan membaca tulisan kita?
Nah, tanpa banyak basa-basi, langsung saja kita bahas satu per satu. 😊

Ada 7 jenis paragraf pembuka cerita yang mampu menarik pembaca dalam sekali pandang, yaitu:
1. Cerita dibuka dengan sebuah action/kejadian. Perempuan itu datang saat matahari terbenam. Langit menggelap dengan semburat jingga di ufuk barat. Angin bertiup pelan dan burung-burung kembali ke sarang. Di punggungnya, seorang bocah laki-laki tertidur dengan kedua lengan erat memeluk leher perempuan itu. 2. Cerita dibuka dengan mengenalkan salah satu tokoh/karakter yang ada dalam cerita. Saat berusia sembilan tahun, adikku Maya memenangkan sebuah perlombaan melukis. Dia memang berbakat dalam melukis. Hingga sekarang di usianya yang enam belas tah…