Skip to main content

[TUTORIAL] SEPATU BEKAS JADI BARU LAGI DENGAN COVER RAJUT (FOTO STEP BY STEP)



Hai, Bunda dan Sista Rajuters~ 😊

Sesuai janji saya di grup Belajar Merajut kemarin, hari ini saya posting Tutorial Step by Step Cover Sepatu Rajut. Nggak nyangka banget, bakal dapat respons positif dari Bunda dan Sista sekalian. Saya pikir nggak ada yang tertarik, makanya saya cuma menargetkan 20 komentar "mau" untuk membuat tutorial ini. Saya nggak mau muluk-muluk. Bagaimanapun, saya bakal tetap membuat tutorial ini, kok. Nah, respons Bunsist sekalian ini menjadi penyemangat untuk saya. 😊

terima kasih respons-nya, Bunsist~ 😘

Sebelum menuju ke tutorialnya, saya mau minta maaf dulu kalau gambar-gambarnya pecah/kurang jelas. Kamera hape biasa ini, malam hari (saya begadang semalam setelah si bocil KO pukul 11 malam demi membuat tutorial ini, meski baru bisa menulis siang hari), dan tanpa flash. Nggak apa-apa, ya, yang penting pesannya tersampaikan. 😅

Oh, ya, barangkali ada di antara Bunda dan Sista yang penasaran dan bertanya-tanya:
1. Kok tutorialnya dikasih gratis? Padahal, di luar sana banyak, lho, yang untuk 1 tutorial saja harus bayar mahal.
2. Apa nggak rugi? Nggak takut ditiru dan kehilangan pelanggan?

Jawab saya:
Rezeki sudah ada yang mengatur. Insya Allah nggak akan rugi. Lagi pula, di mana, sih, ruginya berbagi itu? Malah banyak manfaatnya, kan? Doakan saja semoga rezeki kami sekeluarga diperlancar oleh Allah, ya, Bunsist. 😇 (bantu amin-kan, ya.) 😁

So..., mari kita mulai.

Tutorial Step by Step Cover Sepatu Rajut

Cover sepatu rajut cukup diminati karena selain unik, modelnya yang stylish dan juga bisa di-custom menjadi alasan tersendiri. Sepatu yang di-cover pun bisa sepatu baru maupun sepatu lama/bekas. Nah, untuk tutorial kali ini, saya menggunakan sepatu kulit lama yang sudah mengelupas-ngelupas karena lembap.
Lihat? Sepatunya udah nggak layak pakai (meski sol-nya masih lumayan kokoh). Ini bukan sepatu milik saya, ngomong-ngomong. Ini milik salah satu pelanggan yang ingin diperbarui sepatunya (tampaknya ini sepatu kesayangan beliau). Nah, ingin tahu bagaimana menyulap sepatu bekas ini jadi baru lagi? Teruskan membaca, ya! 😉
Alat yang diperlukan untuk meng-cover sepatu antara lain:
>> Benang rajut (di sini saya pakai benang poly blink/poly glitter/poly kertip)
>> Jarum rajut/hakpen nomor 3/4
>> Jarum jahit besar dengan lubang besar
>> Gunting

Proses merajut:

Pertama, jahit garis bawah sepatu dengan tusuk jejak, seperti foto di bawah ini. Jangan pikirkan panjang jahitannya. Nggak apa-apa meski nggak sama panjangnya. Nanti itu bakal ketutup, kok. Yang penting jahitannya lurus/mengikuti garis bawah sepatu alias nggak mletat-mletot. 😁
Kedua, pada jahitan itu, mulai isi dengan sc back loop (single crochet/tusuk tunggal yang diambil bagian belakang). Isi setiap jahitan dengan 2-4 sc/single crochet/tusuk tunggal tergantung panjang jahitannya. Nggak apa-apa meski isinya nanti nggak sama setiap jahitannya, yang penting rapat. Nanti bakal kelihatan rapi, kok.

TIPS #1 Agar lebih rapi, sc pada baris ke-1 (pada benang jahitan) sebaiknya mengarah ke dalam. Caranya, sepatu menghadap ke atas (ke arah kita), lalu dirajut. Setelah selesai 1 baris, balik sepatunya (membelakangi kita/sol-nya yang menghadap kita) dan rajut dengan sc back loop (arahnya jadi berlawanan dengan baris pertama tadi). Lanjutkan terus sampai 3-4 baris sc back loop.


TIPS #2 Lihat perbedaan "bagian depan sepatu" pada gambar di atas? Pada gambar yang atas, itu terus dirajut tanpa decrease/mengurangi hitungan rajutan. Sedangkan, yang bawah itu dikurangi hitungannya. Caranya, saat mendekati bagian depan sepatu pada baris ke-3, lompati 1 lubang setiap 2 sc. Contoh: sc- sc - lompat - sc - sc - lompat -sc - sc

Ketiga, lanjutkan merajut dengan sc back loop sampai 5-6 baris atau sampai mendekati bagian paling rendah di sisi samping sepatu (seperti gambar di bawah ini).

TIPS #3 Agar benang sisanya nggak njrabut, ikat ujungnya dengan simpul mati.
Langkah keempat, mulai kerjakan bagian depan dan belakang sepatu (masih dengan sc back loop). Di sini insting bergerak, ya. Gimana enaknya, gimana pantasnya, Bunda dan Sista bisa berkreasi di sini. Kalau saya, untuk bagian belakangnya saya kerjakan per 1 baris. Jadi, 1 baris selesai, potong. Mulai lagi di baris atasnya, beberapa lubang dari tepi baris yang bawah. Untuk bagian depan, saya rajut menyambung (tanpa memotong).

Jangan khawatir bekas/sisa potongan benang di sana sini. Itu nanti bakal ketutup, kok. 😌


Kelima. Setelah langkah keempat selesai, terlihat bagian tepi rajutannya nggak rapi, kan? Nah, untuk merapikannya, kalau saya pakai slip stitch atau tusuk rantai, masih mengambil back loop untuk tusukannya. Perhatikan gambar di bawah ini, ya.

Berikut ini wujud tepiannya setelah dirapikan dengan slip stitch atau tusuk rantasi:


Terlihat lebih rapi, kan? Sekarang, langkah keenam, tinggal kita lanjutkan dengan sc/hdc backloop hingga setara tepian sepatu. Setelah selesai, matikan benang dan potong, berikan simpul mati pada ujung sisa benang sepaya nanti nggak njrabut di sela-sela rajutan.

Langkah selanjutnya, jahit bagian atas dengan benang dan jarum. Jaraknya nggak perlu yang sama-sama banget, tapi sesuaikan saja, ya. Yang penting jahitannya lurus/rapi mengikuti garis sepatu. Lihat pada gambar di bawah:


Saat saya memosting hasil cover sepatu rajut saya beberapa waktu lalu di grup Belajar Merajut, saya mendapatkan banyak pertanyaan dari Bunda dan Sista sesama anggota grup, bagaimana agar bagian atasnya rapi?

Ini cara saya:

TIPS #4 Pada jahitan itu, isi dengan sc/single crochet/tusuk tunggal. Berapa pun isinya dalam setiap jahitan tidak masalah, yang penting rapat dan rapi. Lihat gambar di bawah untuk hasilnya.


Nah... untuk merapikannya, kita tinggal menyatukan kedua baris (luar dan dalam) itu dengan sc saja. Jangan lupa, sc-nya menghadap ke dalam (bagian atas sepatu menghadap ke arah kita). Pas merajutnya agak sulit, tapi hasilnya bener-bener rapi, lho. Lihat saja gambar pertama yang berada di paling atas postingan ini, atau gambar di bawah ini:


TIPS #5 Dengan menambahkan 1 baris sc penutup di bagian tepi/atas, lubang sepatu jadi sedikit lebih sempit. Jadi, kalau Bunda dan Sista memutuskan memakai cara seperti saya ini, sebaiknya gunakan ukuran sepatu yang 1 nomor di atas ukuran sepatu Bunda dan Sista. Misalnya saja, ukuran sepatu Bunda dan Sista biasanya 37, untuk membuat sepatu dengan cover rajut seperti ini, gunakan sepatu berukuran 38. Kalau nggak ada? Atau, kalau itu sepatu lama milik pelanggan? Ya, nggak apa-apa pakai nomor yang sama. Hanya saja, nanti jadi agak sempit (sedikit, sih). Nanti Bunsist coba sendiri, deh, biar lebih tahu. 😁

Nah, itu tadi Tutorial Step by Step Cover Sepatu Rajut ala saya, ya, Bunda dan Sista~
Semoga tutorial ini bermanfaat, ya. Jangan lupa untuk mencobanya. Nanti, kalau sudah jadi, posting dan tag saya, ya. 😇

Oh, ya, sebelum Bunda dan Sista meninggalkan halaman ini, boleh, dong, saya minta bantuannya untuk meng-klik iklan yang ada di sini 1x saja? 😇 Satu klik dari Bunda dan Sista berarti banget bagi saya. Itu bisa jadi rezeki buat saya. Oh, ya, saya nggak memaksa, kok. Jadi, nggak meng-klik pun nggak apa-apa. Terima kasih, Bunda dan Sista~ Happy crocheting~ 😇

*Mega, 22 Januari 2018

PS:
Tolong jangan copas artikel ini, ya.
Jika bermanfaat, share dengan menyebutkan sumber ini saja, ya. 😇

Comments

  1. Nice tutorial. Memberi sumbangan juga untuk kelestarian lingkungan. Karena barang yang sudah tidak layak, nggak langsung dibuang dan jadi sampah, tapi bisa diubah jadi cantik dan semakin keren.

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul, betul. inilah namanya upcycle, kita bikin sesuatu yg bermanfaat dari barang bekas. :D

      Delete
  2. ini mah kreatif banget, wah jd keren dan bagus lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Atau "kere-aktif", sebab yg dipakai barang bekas, 😅

      Delete
  3. Mba, sepertinya aku lbh milih mesen aja deh drpd bikin sendiri hihihi.. :p. Dr dulu tiap pelajaran jahit menjahit di sekolah, aku pasti paling stress krn hasilnya ga bisa rapi . Padahal mama ama adekku semuanya pinter bgt bikin rajutan dan kerajinan begini

    ReplyDelete
    Replies
    1. walah, mungkin hanya butuh sedikit ketelatenan, 😅

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

[WRITING] TEKNIK MENULIS SHOW DON'T TELL (DILENGKAPI CONTOH)

[RANDOM TALK] MENULIS DENGAN TANGAN KIRI, SALAHKAH? ORANG KIDAL PUN MEMILIKI KELEBIHAN!

[WRITING] PROSA UNGU YANG MENDAYU (PENGERTIAN DAN CONTOH)

Assalamualaikum~
Salam sejahtera dan Rahayu~

Sebelum memasuki bahasan pokok, saya mau bilang bahwa judul itu hanya soal rima, ya. Kata "mendayu" berkaitan dengan suara senandung sayup-sayup, jadi sebenarnya enggak terlalu cocok kalau disandingkan dengan prosa ungu yang lekat dengan kata-kata. Hehehe 😁

Nah, pernahkah kalian mendengar tentang purple prose atau prosa ungu?

Pernahkah kalian membaca cerpen atau novel yang penulisannya boros, berbunga-bunga, diksi penuh metafora, dan secara umum berlebihan? Itulah yang disebut prosa ungu. Nah, kalau misalnya bagian yang berbunga-bunga ini hanya terletak di satu atau beberapa bagian saja dari keseluruhan cerita, bagian yang memuat metafora dan diksi berbunga-bunga ini disebut purple patches atau purple passages.

Dikutip dari Urban Dictionary, prosa ungu adalah tulisan yang penulis gunakan dengan sangat berbunga, deskriptif, dengan kata-kata yang tidak perlu. Kata-kata (atau deskripsi) tersebut tidak menambah cerita dan biasanya d…

[WRITING] 7 JENIS PARAGRAF PEMBUKA CERITA YANG MENARIK PEMBACA (DENGAN CONTOH)

Hallo there~

Kita berjumpa lagi~ 😃
Kali ini kita membahas tentang pembukaan sebuah cerita. 😃
Kalian tahu, paragraf pertama sebuah cerita ibaratnya display pada jendela toko. Bagaimana membuat display yang menarik sehingga pelintas (calon pembaca) berhenti dan membaca tulisan kita?
Nah, tanpa banyak basa-basi, langsung saja kita bahas satu per satu. 😊

Ada 7 jenis paragraf pembuka cerita yang mampu menarik pembaca dalam sekali pandang, yaitu:
1. Cerita dibuka dengan sebuah action/kejadian. Perempuan itu datang saat matahari terbenam. Langit menggelap dengan semburat jingga di ufuk barat. Angin bertiup pelan dan burung-burung kembali ke sarang. Di punggungnya, seorang bocah laki-laki tertidur dengan kedua lengan erat memeluk leher perempuan itu. 2. Cerita dibuka dengan mengenalkan salah satu tokoh/karakter yang ada dalam cerita. Saat berusia sembilan tahun, adikku Maya memenangkan sebuah perlombaan melukis. Dia memang berbakat dalam melukis. Hingga sekarang di usianya yang enam belas tah…