Skip to main content

[WRITING] PENGERTIAN DAN CONTOH LENGKAP PENGGUNAAN TANDA PISAH EM DASH




Sebelumnya, saya pernah memposting tulisan ini di Status FB saya, di sini, pada 9 September 2014. Saat itu, banyak di antara teman-teman ingin men-share status tersebut, tapi tidak bisa karena itu "membawa" link Wikipedia, sehingga jika di-share yang muncul hanyalah link tersebut, tidak tulisannya.

Atas permintaan teman-teman, saya me-repost bahasan tersebut di Catatan FB saya, di sini, pada 10 September 2014.

"Catatan ini perlu dilestarikan!" Begitu komentar salah seorang 'guru' saya dalam dunia kepenulisan, yang akrab kami sapa Bun Ve. Hal tersebut pun diamini oleh teman-teman (terima kasih), dan bahkan hingga kemarin masih ada juga yang share catatan tersebut (alhamdulillah, jika bermanfaat). 😇

Nah, langsung saja kita baca, penggunaan tanda baca em dash (tanda pisah) beserta contoh-contohnya. Saya hanya melakukan minor editing di sini, secara mayor isinya masih sama persis dengan yang saya tulis 3 tahun lalu. 😊

#Concerning_Punctuation_emDash

Sebenarnya, apa, sih, kegunaan tanda setrip [ingat, yang baku "setrip", bukan "strip"!] panjang dalam kalimat?

Secara umum, tanda pemisah berupa setrip panjang atau yang lebih keren disebut "em dash", digunakan untuk memberikan "sisipan" atau "penjelasan khusus" dalam sebuah kalimat, yang "tidak termasuk bagian dari kalimat utama". Itu juga bisa digunakan untuk menandai kalimat (umumnya dalam dialog) yang belum selesai dan/atau terinterupsi.

Kenapa "em dash"? Yah, karena ada "en dash", ehehehe. #abaikan 😅😅😅

Jadi, ada dua jenis dashes, yakni en dash (setrip pendek) dan em dash (setrip panjang). Tapi, kali ini yang akan dibahas adalah em dash. Alasannya sederhana saja, sewaktu berjalan-jalan di beranda, tiba-tiba saya 'nemu' status yang menarik, yang menggunakan setrip panjang yang peletakannya bisa saya katakan kurang tepat.

Ketika saya tanya, apa, sih, fungsi tanda itu menurut sepemahaman penulis, ye-be-es memberikan jawaban yang kurang memuaskan, ehehehe.

Begini jawabnya, "Sebenarnya lebih ke rasa suka. Haha. Pun, memperjelas maksud dari kata/kalimat sebelumnya."

Oke, kita punya dua poin sekarang:
  1. karena suka (mungkin karena bentuk em dash itu menarik?)
  2. memperjelas maksud dari kata/kalimat sebelumnya
Poin pertama, untuk kalian yang baru coba-coba menggunakan em dash, tolong, ya, jangan hanya karena alasan "suka". Serius, itu lemah banget.

Poin kedua, fungsi memperjelas itu mungkin dapat diterima, karena secara tak langsung em dash pun bisa berfungsi sebagai penjelas. Tapi, penjelas yang bagaimana?

Menurut penulis, "Ya, biar lebih terbuka maknanya."

Baik, poin ketiga, agar makna kalimat lebih terbuka.

Berikut saya kutipkan status terkait:

Dan, ketika otak mulai berkoneksi kembali—sadar. Hatiku bak teriris—menyesali.

Merasa janggal? Tidak? Baiklah, mungkin itu "tidak janggal" bagi sebagian orang, tapi bagi saya itu janggal. Kenapa janggal?

Begini, em dash adalah "sisipan" atau "penjelasan khusus" yang keberadaannya, jika tidak dibaca pun, "tidak akan mengubah susunan kalimat utama".

Sehingga, untuk mengetahui apakah penggunaan em dash tersebut sudah tepat atau belum, dapat diperiksa dengan cara menghilangkan bagian sisipan. Jika setelah sisipan/penjelas tersebut dihilangkan, yang didapat adalah satu kalimat padu, bisa dibilang em dash tersebut tepat penggunaannya.
pengertian em dash

Contoh A:

1. Si penyihir—jika dia penyihir—merenggut pecut dan melecutkannya tanpa ampun ke tubuh teman seperjalanannya. [the Robe of Skulls - Jubah Tengkorak, Vivian French]

>> Jika sisipan dalam setrip panjang [jika dia penyihir] dihilangkan, kalimatnya menjadi:

Si penyihir merenggut pecut dan melecutkannya tanpa ampun ke tubuh teman seperjalanannya.

2. Datangnya duta Mongol yang meminta Raja Kertanegara tunduk kepada Mongol pra-Pamalayu—bukan kepada kerajaan-kerajaan di India, Indocina, Melayu, Semenanjung, dan Kalimantan—menunjukkan bahwa Jawa tetap pengendali lima zona komersial dan .... [Majapahit Peradaban Maritim, Irawan Djoko Nugroho]

>> Jika penjelasan khusus yang diapit em dash dihilangkan, kalimat tersebut tetaplah kalimat utuh yang padu:

Datangnya duta Mongol yang meminta Raja Kertanegara tunduk kepada Mongol pra-Pamalayu menunjukkan bahwa Jawa tetap pengendali lima zona komersial dan ....

3. Jared meraih benda terdekat—sepotong besi—dan melemparnya ke arah si naga. [the Spiderwick Chronicles, Tony Diterlizzi & Holly Black]

>> Jika penjelasan khusus dihilangkan, kalimatnya adalah:

Jared meraih benda terdekat dan melemparnya ke arah si naga.


Sekarang, mari kembali pada kutipan status di atas:

Dan, ketika otak mulai berkoneksi kembali—sadar. Hatiku bak teriris—menyesali.
>> Jika kata "penjelas" tersebut dihapus, kalimat tersebut akan menjadi begini:
Dan, ketika otak mulai berkoneksi kembali. Hatiku bak teriris.
Lihat kejanggalannya?

Ya, itu membentuk dua kalimat:
  1. Dan, ketika otak mulai berkoneksi kembali.
  2. Hatiku bak teriris.

Kalimat kedua (mungkin) bisa disebut kalimat utuh, tapi kalimat pertama jelas tidak bisa. Itu menjelaskan bahwa penggunaan em dash dalam kalimat tersebut kurang (jika tidak bisa dikatakan 'tidak') tepat. Sehingga, penulis kemudian mengubah kalimatnya menjadi:
Dan, ketika otak mulai berkoneksi kembali, hatiku bak teriris.
Kini, kalimat perbaikan tersebut lebih bisa diterima.

Nah, kembali kepada em dash, seperti saya singgung di atas, selain sebagai sisipan atau penjelasan khusus, em dash juga bisa untuk menandai kalimat yang belum selesai dan/atau terinterupsi.

Contoh B:

1. Kalimat terinterupsi karena penutur dikenai sesuatu yang membuatnya mengaduh kesakitan:

Gubble mengangguk. "Apa pun yang Kaukatakan, Maha Durjana—aw!”
[the Robe of Skulls - Jubah Tengkorak, Vivian French]

2. Kalimat terinterupsi karena ada penutur lain yang menyela atau memotong:

a.
Jared nyengir. "Kau kelihatan seperti mendapat—”
"Diam!" kata Malory lagi, masuk ke ... .

b.
"Ini makhluk bernama brownie—”
"Seperti kue?"
"Aku tidak tahu," kata Jared.

[the Spiderwick Chronicles, Tony Diterlizzi & Holly Black]

3. Kalimat terputus karena penutur berubah pikiran, tidak ingin menjelaskan lebih jauh, dan/atau mendapat gagasan lain:

a.
"Sejenis burung, mirip—sudahlah, jauh-jauhlah dari dia.”

b.
“Tidak—ini terlalu aneh,” kata Jared.

c.
"Aku membayangkan aku akan menyarankan—tunggu, berapa umurmu?”

[the Spiderwick Chronicles, Tony Diterlizzi & Holly Black]

4. Kalimat terputus karena penutur tidak tahu atau sedang memikirkan lanjutan yang tepat untuk kalimatnya:

“Dan sebaiknya kau mengeluarkanku dari sini, atau—”
“Atau apa?” tanya Elsie manis.

[the Robe of Skulls - Jubah Tengkorak, Vivian French]

Kesimpulan

Sebuah tanda baca (dalam hal ini, tanda pisah atau em dash), hendaknya digunakan dengan akar yang tepat. Jangan hanya karena itu terlihat bagus atau menarik, dan terlihat "lebih liris" atau "puitis", lalu menggunakannya tanpa memperhatikan bagaimana peletakan atau penggunaan yang tepat. Dan, sesungguhnya, tidak hanya em dash, tanda lain seperti titik dua atau titik koma pun hendaknya diperhatikan peletakannya, terutama dalam penulisan puisi, sehingga penggunaan tanda baca tersebut dapat dipertanggungjawabkan dan tidak asal "suka" karena "indah" serta menggunakan tameng 'licentia poetica'.

Nah, bagaimana? Sudah mendapat gambaran penuh mengenai apa itu em dash dan apa fungsinya serta bagaimana penempatannya?

Dari contoh-contoh di atas, setidaknya kalian pasti sudah bisa mendapatkan gambaran, bukan?

Jika belum pun, berikut ini beberapa bacaan yang bagus mengenai dashes beserta contoh-contoh penggunaannya:

Pedoman penulisan tanda baca:
http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Pedoman_penulisan_tanda_baca

Dashes (punctuation):
http://www.grammarbook.com/punctuation/dashes.asp

The Dash:
http://grammar.ccc.commnet.edu/grammar/marks/dash.htm

Dash:
http://en.wikipedia.org/wiki/Dash

#nggelindingkepojok
#capekngetikpanjang
#adakah_yang_baca_beneran_tulisan_sepanjang_ini?


cc: penulis status, Pak Aksa, maaf saya jadikan bahan tulisan, maaf pula tak bisa summon.

*Haz, 9 September 2014
repost & minor edit: 26 Desember 2017 

PS:
Jika kalian merasa artikel ini bermanfaat, feel free to share BUT never forget to cite the source. Silakan share  tapi sertakan sumbernya (link ke tulisan ini). Terima kasih~ 😇 😇 😇 

Comments

Popular posts from this blog

[TUTORIAL] SEPATU BEKAS JADI BARU LAGI DENGAN COVER RAJUT (FOTO STEP BY STEP)

Hai, Bunda dan Sista Rajuters~ 😊

Sesuai janji saya di grup Belajar Merajut kemarin, hari ini saya posting Tutorial Step by Step Cover Sepatu Rajut. Nggak nyangka banget, bakal dapat respons positif dari Bunda dan Sista sekalian. Saya pikir nggak ada yang tertarik, makanya saya cuma menargetkan 20 komentar "mau" untuk membuat tutorial ini. Saya nggak mau muluk-muluk. Bagaimanapun, saya bakal tetap membuat tutorial ini, kok. Nah, respons Bunsist sekalian ini menjadi penyemangat untuk saya. 😊


Sebelum menuju ke tutorialnya, saya mau minta maaf dulu kalau gambar-gambarnya pecah/kurang jelas. Kamera hape biasa ini, malam hari (saya begadang semalam setelah si bocil KO pukul 11 malam demi membuat tutorial ini, meski baru bisa menulis siang hari), dan tanpa flash. Nggak apa-apa, ya, yang penting pesannya tersampaikan. 😅

Oh, ya, barangkali ada di antara Bunda dan Sista yang penasaran dan bertanya-tanya:
1. Kok tutorialnya dikasih gratis? Padahal, di luar sana banyak, lho, yang unt…

[WRITING] TEKNIK MENULIS SHOW DON'T TELL (DILENGKAPI CONTOH)

[RANDOM TALK] MENULIS DENGAN TANGAN KIRI, SALAHKAH? ORANG KIDAL PUN MEMILIKI KELEBIHAN!

[WRITING] PROSA UNGU YANG MENDAYU (PENGERTIAN DAN CONTOH)

Assalamualaikum~
Salam sejahtera dan Rahayu~

Sebelum memasuki bahasan pokok, saya mau bilang bahwa judul itu hanya soal rima, ya. Kata "mendayu" berkaitan dengan suara senandung sayup-sayup, jadi sebenarnya enggak terlalu cocok kalau disandingkan dengan prosa ungu yang lekat dengan kata-kata. Hehehe 😁

Nah, pernahkah kalian mendengar tentang purple prose atau prosa ungu?

Pernahkah kalian membaca cerpen atau novel yang penulisannya boros, berbunga-bunga, diksi penuh metafora, dan secara umum berlebihan? Itulah yang disebut prosa ungu. Nah, kalau misalnya bagian yang berbunga-bunga ini hanya terletak di satu atau beberapa bagian saja dari keseluruhan cerita, bagian yang memuat metafora dan diksi berbunga-bunga ini disebut purple patches atau purple passages.

Dikutip dari Urban Dictionary, prosa ungu adalah tulisan yang penulis gunakan dengan sangat berbunga, deskriptif, dengan kata-kata yang tidak perlu. Kata-kata (atau deskripsi) tersebut tidak menambah cerita dan biasanya d…

[WRITING] 7 JENIS PARAGRAF PEMBUKA CERITA YANG MENARIK PEMBACA (DENGAN CONTOH)

Hallo there~

Kita berjumpa lagi~ 😃
Kali ini kita membahas tentang pembukaan sebuah cerita. 😃
Kalian tahu, paragraf pertama sebuah cerita ibaratnya display pada jendela toko. Bagaimana membuat display yang menarik sehingga pelintas (calon pembaca) berhenti dan membaca tulisan kita?
Nah, tanpa banyak basa-basi, langsung saja kita bahas satu per satu. 😊

Ada 7 jenis paragraf pembuka cerita yang mampu menarik pembaca dalam sekali pandang, yaitu:
1. Cerita dibuka dengan sebuah action/kejadian. Perempuan itu datang saat matahari terbenam. Langit menggelap dengan semburat jingga di ufuk barat. Angin bertiup pelan dan burung-burung kembali ke sarang. Di punggungnya, seorang bocah laki-laki tertidur dengan kedua lengan erat memeluk leher perempuan itu. 2. Cerita dibuka dengan mengenalkan salah satu tokoh/karakter yang ada dalam cerita. Saat berusia sembilan tahun, adikku Maya memenangkan sebuah perlombaan melukis. Dia memang berbakat dalam melukis. Hingga sekarang di usianya yang enam belas tah…