Skip to main content

[WRITING] 12 KIAT MENULIS UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS (NOMOR 8 SANGAT PENTING)



 
Salam~

Pada pembahasan kali ini, saya ingin berbagi kiat menulis. Sumber materi ada di bawah, ya. Keep reading...! 😊

Rasa malas dan terlebih writer's block pasti merupakan momok tersendiri bagi seorang penulis. Setidaknya, bagi saya begitu. Meskipun saya masih sebatas penulis amatir. Hehehe. Selain writer's block, terkadang berbagai macam distraksi juga membuat tulisan kita terhambat. Entah itu karena lelah, pekerjaan di rumah, bahkan internet. Iya, internet ini (dan terutama medsos) bisa jadi distraksi yang sangat kuat dan sulit dihindari.

Nah, kiat-kiat berikut ini bisa membantu dalam meningkatkan produktivitas dalam menulis. Apa saja itu? Yuk, langsung kita tengok satu per satu! 😊

1. Menulislah ketika merasa grogi/canggung

Penelitian menyatakan bahwa kita bisa jadi lebih kreatif ketika kita berada pada fase yang sangat canggung. Terbiasa menulis tengah malam? Coba menulis di pagi atau sore hari. Terbiasa menulis di pagi hari? Coba sesekali menulis di malam hari.

2. Setel pengatur waktu

Kelola segala macam distraksi/gangguan dan hindarilah kelelahan menulis dalam ledakan singkat. Maksudnya, kita bisa istirahat sejenak saat menulis agar tidak kelelahan sehingga ide-ide yang ada di dalam benak kita bisa tetap terjaga. Tahukah kalian? Kelelahan juga bisa jadi pemicu buntunya ide. Jadi, ketika kita menulis selama 25 menit, kita bisa istirahat 5 menit. Saat istirahat ini, kita bisa menengok medsos, melihat-lihat internet, mengangkat jemuran, atau pekerjaan lainnya. Tapi ingat, jangan terlalu terlena. Jangan beristirahat terlalu lama atau ide-ide kita justru akan buyar.

3. Jadikan menulis sebagai pilihan

Tanpa kita sadari, "have to" list justru bisa membuat alam bawah sadar kita melakukan perlawanan, lho. Akibatnya, kita justru jadi menunda-nunda pekerjaan. Untuk mengatasinya, ubahlah cara pandang dan katakan pada diri kita, "Saya ingin menulis." 

4. Membuat komitmen yang spesifik

Kelanjutan dari Kiat Nomor 3, buatlah janji yang lebih spesifik/tegas. Penelitian menunjukkan bahwa rencana tertulis meningkatkan tindak lanjut. Misalnya, setelah menulis hari ini, tulislah rencana untuk hari esok. Apa yang akan kita tulis besok? Berapa paragraf/berapa judul? Di mana akan kita posting/publish tulisan kita? Pukul berapa kita mulai menulis dan berapa lama? Pertanyaan-pertanyaan ini bisa membantu kita membuat janji yang lebih spesifik, dan membantu kita menindaklanjutinya esok hari.

 5. Membagi proses dalam potongan-potongan kecil

Langkah-langkah kecil dapat mengurangi rasa cemas dalam menulis. Pisahkan antara membuat outline, menulis, merevisi, dan menyunting. Fokuslah pada bagian-bagian kecil seperti opening atau tajuk utama.

6. Penyaringan ide

Saat berada dalam mode berpikir disfusi (penyebaran ide, yaitu saat kita membiarkan pikiran kita mengembara), kita bisa mendapatkan wawasan baru. Alih-alih terlalu fokus menulis (kalau orang Jawa bilang, terlalu ngendeng), kita bisa membaginya dalam beberapa hari penulisan. Sehingga, di waktu-waktu istirahat itu kita bisa menyaring ide-ide yang berhamburan di dalam pikiran kita.

   

7. Ciptakan mood dalam menulis

Ritual tertentu dapat meningkatkan kepercayaan diri dan motivasi. Apa yang bisa membuat mood-mu menjadi lebih baik? Secangkir teh? Cokelat hangat? Menyetel pengatur waktu? Apa pun itu bisa menjadi cara untuk meningkatkan mood sebelum mulai menulis.

8. Hindari lubang kelinci

Jangan menginterupsi/menyela alur penulisan untuk melihat bagian-bagian yang missed dari riset. Ini yang paling sering menyebabkan kita—terutama saya sendiri—terhenti menulis karena riset. Bahkan, terkadang kita justru terdistraksi terlalu lama saat berselancar di internet. Akibatnya, bisa jadi kita justru terkena writer's block. Untuk mengatasinya, saat menulis dan sampai pada bagian yang perlu riset lebih dalam, tulislah "TC" (to come) atau—ini yang biasa saya lakukan—tulis dengan warna merah dan tebal (bold). Nantinya, setelah selesai menulis, kita bisa kembali ke bagian yang masih missed itu.

9. Bangun jembatan untuk ditulis esok hari

Ketika kita menguras energi kita untuk menulis "hari ini", bisa jadi besok kita akan kesulitan untuk memulai lagi. Karena itu, berhentilah saat ide masih ada (belum habis), sehingga kita bisa selalu tahu apa yang akan kita tulis besok untuk melanjutkan tulisan kita.

10. Selamatkan draf yang gagal

Proyek yang tidak selesai merupakan pembunuh produktivitas yang sangat mematikan. Coba lihat lagi draf itu, carilah ide-ide yang bagus darinya, dan bekerjalah (mulai menulis) dari sana.

11. Pelan-pelan saja, alon-alon asal kelakon

Mengharapkan bisa menulis dengan kecepatan maksimum justru bisa menghambat alur penulisan. Sebaliknya, jadikan 90% sebagai tujuan menulis dan usir segala jenis distraksi/gangguan untuk meningkatkan kecepatan menulis.

12. Latih otot menulis

Kebiasaan yang teratur dapat membantu mengoptimalkan kinerja kita. Metode Kaizen menyarankan goals yang bisa dilakukan untuk tetap berpegang pada kebiasaan baru dan memperbaiki small process untuk meningkatkan kinerja. Kaizen merupakan istilah dalam bahasa Jepang yang bermakna "perbaikan berkesinambungan". Kaizen berpandangan bahwa hidup kita hendaknya fokus pada upaya perbaikan terus-menerus. Pada penerapannya dalam penulisan, kaizen mencakup pengertian perbaikan berkesinambungan yang melibatkan seluruh proses penulisan, mulai dari ide/proses terkecil hingga pengeksekusiannya dalam bentuk tulisan.



Itulah 12 Kiat Menulis (yang luar biasa) untuk meningkatkan produktivitas. Sumber materi saya dapat dari sini (lihat gambar di bawah). Bagaimanapun, itu semua hanyalah teori. Selama kita tidak melakukannya, tentu kita tidak bisa berkembang pesat seperti yang diharapkan menjadi hasil dari 12 Kiat Menulis ini. Intinya, practice makes perfect, as long as we ain't do it, it's just a piece of theory.

Jadi... inti dari semua ini adalah PRAKTIK. Apa gunanya membaca banyak sekali teori tanpa praktik? Hanya jadi pepesan kosong. Iya, kan? Share postingan ini jika kalian setuju! 😇


Haz, 30 Oktober 2017
the sources

Comments

  1. Assalamu 'alaikum. Saya mau minta sarannya. Saya ingin menulis novel fiksi, tapi dengan tekhnik kepenulisan yang lebih berwarna, seperti novel ayat-ayat cinta. Gaya kepenulisan saya mirip-mirip Habiburrahman Al shirazy. Saya sangat senang membaca karya-karya beliau, tulisannya sangat berkualitas. Namun, jika diteliti, kok jadi terkesan menggurui ya!? Banyak dialog yang tidak proporsional karena terlalu memaksakan unsur dakwah. Nah, pertanyaan saya, adakah tips untuk mengatasi hal seperti itu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waalaikum salam, :)
      untuk mengatasinya, bisa disisipkan melalui perilaku tokoh.
      daripada menulis: di sebuah ruangan, si tokoh guru/pak tua bijak memberikan nasihat panjang kepada tokoh utama dg dialog2 petuah panjang,
      lebih baik tulis: adegan yang "menunjukkan" perilaku tokoh panutan tersebut.
      contoh:
      si tokoh bijak sedang membantu orang yg dikenal kerap berlaku kasar.
      si tokoh utama melihat, lalu bertanya alasan si tokoh bijak.
      si tokoh bijak tersenyum, memberikan jawaban singkat yg langsung ke inti masalah.
      .
      hal2 seperti di atas, bisa terus dilakukan sepanjang cerita. disisipkan dalam potongan2 adegan yg menyebar di sepanjang cerita. jadi, pembaca bisa mendapatkan hikmah dari 'perbuatan' si tokoh tersebut dan tidak akan merasa bosan (tidak merasa digurui).
      .
      kira2 begitu. semoga membantu~ :)

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

[WRITING] 7 JENIS PARAGRAF PEMBUKA CERITA YANG MENARIK PEMBACA (DENGAN CONTOH)

Hallo there~

Kita berjumpa lagi~ 😃
Kali ini kita membahas tentang pembukaan sebuah cerita. 😃
Kalian tahu, paragraf pertama sebuah cerita ibaratnya display pada jendela toko. Bagaimana membuat display yang menarik sehingga pelintas (calon pembaca) berhenti dan membaca tulisan kita?
Nah, tanpa banyak basa-basi, langsung saja kita bahas satu per satu. 😊

Ada 7 jenis paragraf pembuka cerita yang mampu menarik pembaca dalam sekali pandang, yaitu:
1. Cerita dibuka dengan sebuah action/kejadian. Perempuan itu datang saat matahari terbenam. Langit menggelap dengan semburat jingga di ufuk barat. Angin bertiup pelan dan burung-burung kembali ke sarang. Di punggungnya, seorang bocah laki-laki tertidur dengan kedua lengan erat memeluk leher perempuan itu. 2. Cerita dibuka dengan mengenalkan salah satu tokoh/karakter yang ada dalam cerita. Saat berusia sembilan tahun, adikku Maya memenangkan sebuah perlombaan melukis. Dia memang berbakat dalam melukis. Hingga sekarang di usianya yang enam belas tah…

[WRITING] TEKNIK MENULIS SHOW DON'T TELL (DILENGKAPI CONTOH)

[TUTORIAL] SEPATU BEKAS JADI BARU LAGI DENGAN COVER RAJUT (FOTO STEP BY STEP)

Hai, Bunda dan Sista Rajuters~ 😊

Sesuai janji saya di grup Belajar Merajut kemarin, hari ini saya posting Tutorial Step by Step Cover Sepatu Rajut. Nggak nyangka banget, bakal dapat respons positif dari Bunda dan Sista sekalian. Saya pikir nggak ada yang tertarik, makanya saya cuma menargetkan 20 komentar "mau" untuk membuat tutorial ini. Saya nggak mau muluk-muluk. Bagaimanapun, saya bakal tetap membuat tutorial ini, kok. Nah, respons Bunsist sekalian ini menjadi penyemangat untuk saya. 😊


Sebelum menuju ke tutorialnya, saya mau minta maaf dulu kalau gambar-gambarnya pecah/kurang jelas. Kamera hape biasa ini, malam hari (saya begadang semalam setelah si bocil KO pukul 11 malam demi membuat tutorial ini, meski baru bisa menulis siang hari), dan tanpa flash. Nggak apa-apa, ya, yang penting pesannya tersampaikan. 😅

Oh, ya, barangkali ada di antara Bunda dan Sista yang penasaran dan bertanya-tanya:
1. Kok tutorialnya dikasih gratis? Padahal, di luar sana banyak, lho, yang unt…

[WRITING] PENGERTIAN DAN CONTOH FLASH FICTION

[WRITING] OBJEKTIVITAS DALAM MENULIS RESENSI

Salam~
Kali ini kita bicara tentang resensi. 😊
Apa, sih, resensi itu?Resensi menurut KBBI adalah pertimbangan atau pembicaraan tentang buku; ulasan buku. Sedangkan, menurut Wikipediaresensi berasal dari bahasa Belanda resentie dan bahasa Latin recensio, recensere, atau juga revidere yang artinya mengulas kembali. Resensi adalah suatu penilaian terhadap sebuah karya yang dapat berupa buku, karya seni film, maupun drama.
Lalu, apa saja manfaat dari penulisan resensi?Sebagai Bahan Pertimbangan.Melalui resensi, pembaca memiliki bahan pertimbangan sebelum memutuskan untuk membeli sebuah buku. Apakah buku itu penting? Apakah buku itu layak? Apakah sesuai dengan minat? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini dapat terjawab melalui resensi.Nilai Ekonomis. Jika resensi dimuat dalam majalah atau koran, penulis resensi bisa mendapatkan uang atau imbalan serta buku-buku untuk diresensikan secara gratis dari penerbit buku. Sebagai Sarana Promosi Buku. Berkaitan dengan manfaat nomor 1 di atas,dengan memb…