Skip to main content

[WRITING] OBJEKTIVITAS DALAM MENULIS RESENSI



Salam~
Kali ini kita bicara tentang resensi. 😊

Apa, sih, resensi itu?

Resensi menurut KBBI adalah pertimbangan atau pembicaraan tentang buku; ulasan buku. Sedangkan, menurut Wikipedia resensi berasal dari bahasa Belanda resentie dan bahasa Latin recensio, recensere, atau juga revidere yang artinya mengulas kembali. Resensi adalah suatu penilaian terhadap sebuah karya yang dapat berupa buku, karya seni film, maupun drama.
source: http://www.listchallenges.com

Lalu, apa saja manfaat dari penulisan resensi?

  1. Sebagai Bahan Pertimbangan. Melalui resensi, pembaca memiliki bahan pertimbangan sebelum memutuskan untuk membeli sebuah buku. Apakah buku itu penting? Apakah buku itu layak? Apakah sesuai dengan minat? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini dapat terjawab melalui resensi.
  2. Nilai Ekonomis. Jika resensi dimuat dalam majalah atau koran, penulis resensi bisa mendapatkan uang atau imbalan serta buku-buku untuk diresensikan secara gratis dari penerbit buku.
  3. Sebagai Sarana Promosi Buku. Berkaitan dengan manfaat nomor 1 di atas, dengan membaca resensi sebuah buku, 'calon pembaca' dapat tertarik untuk membeli buku tersebut. Semakin banyak yang membaca resensinya dan semakin bagus resensinya, semakin laris sebuah buku. 
  4. Pengembangan Kreativitas. Sebagaimana pepatah, "Semakin sering diasah, pisau akan semakin tajam," hal yang sama pun berlaku di sini. Semakin sering menulis (resensi), semakin terasah kebiasaan menulis individu. Sejalan dengan itu, kreativitas dalam menulis pun dapat berkembang.
source: http://www.expertrating.com

Sudah tahu manfaatnya, bagaimana cara menulis resensi yang baik dan benar?


  • Mencatat identitas buku yang akan diresensi: jenis buku, judul buku, ISBN, nama pengarang, nama penerbit, tahun terbit, tahun cetak, dimensi buku, jumlah halaman, jenis kertas, dan harga buku.
  • Mencatat dan memahami tujuan dan latar belakang penulisan buku dengan membaca kata pengantar atau pendahuluan buku. Apa tema atau inti isi buku? Apa yang ingin disampaikan penulis melalui bukunya? Pada bagian ini, kita dapat menyampaikannya menjadi ikhtisar atau ringkasan buku.
  • Membuat daftar pokok isi buku secara keseluruhan.
  • Menentukan kelebihan dan kekurangan isi buku dengan memperhatikan:
    1. Kesesuaian ide-ide pokok yang diuraikan dengan tujuan penulisan buku.
    2. Pengungkapan ide-ide pokok dalam buku. Apakah tersusun secara sistematis? Apakah antara bagian satu dengan bagian lainnya tersusun secara harmonis?
    3. Apakah bahasa yang digunakan penulis mudah dipahami? (pilihan kata, struktur kalimat, gaya bahasa, dll.).
  • Menuliskan kembali hasil catatan kita dalam bentuk resensi dengan menggunakan bahasa kita sendiri secara runtut dan jelas, serta memperhatikan penulisan tanda baca yang benar.
  • Memberikan saran dan kesimpulan di akhir resensi apakah buku yang kita resensi tersebut layak dibaca atau tidak.


source: https://www.buzzfeed.com

Buku apa saja yang layak diresensi?

Sebenarnya, tidak ada batasan tertentu dalam meresensi sebuah buku. Memang, untuk resensi yang hendak dimuat di media massa (atau blog pribadi) dengan harapan mendapat imbalan dari penerbit buku, sebaiknya buku yang dipilih untuk dibuatkan resensinya adalah buku-buku terbitan terbaru. Akan tetapi, jika sekadar untuk mengasah kemampuan meresensi, buku-buku terbitan lama pun sebenarnya tidak masalah. Apalagi, jika buku tersebut memiliki nilai lebih dan layak untuk dibaca. Terlebih lagi jika buku tersebut masuk kategori langka dan dicari-cari.

Bagaimana objektivitas dalam menulis resensi?

Memang, tidak bisa dimungkiri bahwa dalam menilai suatu karya, pandangan subjektif kita dapat memengaruhi. Sedangkan, seperti kita tahu, pandangan setiap orang berbeda-beda tergantung bagaimana mereka melihatnya dan dari sudut mana. Karena itu, menentukan objektif atau tidaknya resensi yang kita tulis akan sedikit sulit. Misalnya, pada bagian kelebihan dan kelemahan buku. Bisa saja yang menurut kita merupakan kelebihan, dianggap sebagai kelemahan oleh orang lain. Atau sebaliknya, yang kita sebut sebagai kelemahan terlihat sebagai kelebihan di mata orang lain.

Ada beberapa penulis resensi yang memilih untuk tidak menampilkan kelemahan suatu buku. Alasannya seperti di atas. Selain itu, mereka berpikir karena tujuan resensi salah satunya adalah sebagai sarana promosi buku, dengan mencantumkan kelemahan suatu buku justru akan membuat 'calon pembaca' mundur dan mengurungkan niat untuk membeli buku tersebut. Masih menurut mereka yang menganut paham ini, sebaiknya untuk kelemahan buku disampaikan secara langsung kepada penulis. Alasannya, tidak semua penulis bisa menerima setiap kritikan serta menjaga agar penulis tidak kehilangan semangat karena mendapat kritikan atas karyanya.

Nah, berseberangan dengan paham di atas, sebagian besar penulis resensi beranggapan bahwa kelemahan buku tetap harus dicantumkan dalam resensi. Hanya saja, hendaknya disampaikan dengan bahasa yang baik sehingga tidak menyinggung penulis, dan tetap memberikan rekomendasi kepada pembaca berkaitan dengan kelebihan-kelebihan buku tersebut. Alasan kenapa bagian kelemahan buku harus tetap dicantumkan adalah untuk menjaga agar resensi tetap objektif, tidak memandang dari kelebihannya saja tetapi juga kelemahannya. Ini juga dapat membantu pembaca agar tidak merasa tertipu karena mendapatkan buku yang isinya tidak sesuai dengan resensi yang sudah mereka baca (misalnya, dalam resensi hanya disebutkan kelebihan-kelebihan buku, tetapi ketika pembaca membeli buku tersebut ternyata banyak kekurangan dan tidak sesuai dengan minat pembaca). Meski demikian, bukan berarti kita harus mencari-cari kelemahan buku. Setidaknya, dengan mencantumkan kelebihan dan kelemahan buku, kita telah membantu memberikan pertimbangan kepada pembaca sebelum memutuskan untuk membeli sebuah buku.

Nah, demikianlah 'sedikit' pembahasan mengenai resensi dan objektivitas dalam menulis resensi. Semoga bermanfaat! 😇

*Haz, 7 Oktoberr 2017

Ps:
Contoh resensi sesuai aturan di atas dapat dibaca di sini. 

Comments

Popular posts from this blog

[TUTORIAL] SEPATU BEKAS JADI BARU LAGI DENGAN COVER RAJUT (FOTO STEP BY STEP)

Hai, Bunda dan Sista Rajuters~ 😊

Sesuai janji saya di grup Belajar Merajut kemarin, hari ini saya posting Tutorial Step by Step Cover Sepatu Rajut. Nggak nyangka banget, bakal dapat respons positif dari Bunda dan Sista sekalian. Saya pikir nggak ada yang tertarik, makanya saya cuma menargetkan 20 komentar "mau" untuk membuat tutorial ini. Saya nggak mau muluk-muluk. Bagaimanapun, saya bakal tetap membuat tutorial ini, kok. Nah, respons Bunsist sekalian ini menjadi penyemangat untuk saya. 😊


Sebelum menuju ke tutorialnya, saya mau minta maaf dulu kalau gambar-gambarnya pecah/kurang jelas. Kamera hape biasa ini, malam hari (saya begadang semalam setelah si bocil KO pukul 11 malam demi membuat tutorial ini, meski baru bisa menulis siang hari), dan tanpa flash. Nggak apa-apa, ya, yang penting pesannya tersampaikan. 😅

Oh, ya, barangkali ada di antara Bunda dan Sista yang penasaran dan bertanya-tanya:
1. Kok tutorialnya dikasih gratis? Padahal, di luar sana banyak, lho, yang unt…

[WRITING] TEKNIK MENULIS SHOW DON'T TELL (DILENGKAPI CONTOH)

[RANDOM TALK] MENULIS DENGAN TANGAN KIRI, SALAHKAH? ORANG KIDAL PUN MEMILIKI KELEBIHAN!

[WRITING] PROSA UNGU YANG MENDAYU (PENGERTIAN DAN CONTOH)

Assalamualaikum~
Salam sejahtera dan Rahayu~

Sebelum memasuki bahasan pokok, saya mau bilang bahwa judul itu hanya soal rima, ya. Kata "mendayu" berkaitan dengan suara senandung sayup-sayup, jadi sebenarnya enggak terlalu cocok kalau disandingkan dengan prosa ungu yang lekat dengan kata-kata. Hehehe 😁

Nah, pernahkah kalian mendengar tentang purple prose atau prosa ungu?

Pernahkah kalian membaca cerpen atau novel yang penulisannya boros, berbunga-bunga, diksi penuh metafora, dan secara umum berlebihan? Itulah yang disebut prosa ungu. Nah, kalau misalnya bagian yang berbunga-bunga ini hanya terletak di satu atau beberapa bagian saja dari keseluruhan cerita, bagian yang memuat metafora dan diksi berbunga-bunga ini disebut purple patches atau purple passages.

Dikutip dari Urban Dictionary, prosa ungu adalah tulisan yang penulis gunakan dengan sangat berbunga, deskriptif, dengan kata-kata yang tidak perlu. Kata-kata (atau deskripsi) tersebut tidak menambah cerita dan biasanya d…

[WRITING] 7 JENIS PARAGRAF PEMBUKA CERITA YANG MENARIK PEMBACA (DENGAN CONTOH)

Hallo there~

Kita berjumpa lagi~ 😃
Kali ini kita membahas tentang pembukaan sebuah cerita. 😃
Kalian tahu, paragraf pertama sebuah cerita ibaratnya display pada jendela toko. Bagaimana membuat display yang menarik sehingga pelintas (calon pembaca) berhenti dan membaca tulisan kita?
Nah, tanpa banyak basa-basi, langsung saja kita bahas satu per satu. 😊

Ada 7 jenis paragraf pembuka cerita yang mampu menarik pembaca dalam sekali pandang, yaitu:
1. Cerita dibuka dengan sebuah action/kejadian. Perempuan itu datang saat matahari terbenam. Langit menggelap dengan semburat jingga di ufuk barat. Angin bertiup pelan dan burung-burung kembali ke sarang. Di punggungnya, seorang bocah laki-laki tertidur dengan kedua lengan erat memeluk leher perempuan itu. 2. Cerita dibuka dengan mengenalkan salah satu tokoh/karakter yang ada dalam cerita. Saat berusia sembilan tahun, adikku Maya memenangkan sebuah perlombaan melukis. Dia memang berbakat dalam melukis. Hingga sekarang di usianya yang enam belas tah…